![]() |
| Perayaan 17 Agustus, lomba balap karung (ilustrasi). |
Oleh: Ija Suntana
Semangat sebagian masyarakat untuk mengikuti perayaan kemerdekaan tampak tidak lagi seantusias dahulu.
Apakah itu penanda bahwa rasa cinta masyarakat pada negara menurun? Belum tentu demikian.
Bisa jadi masyarakat bukan kehilangan cinta kepada Indonesia, melainkan mulai bosan dengan pola perayaan yang itu-itu saja.
Dari tahun ke tahun, acara yang ditampilkan hampir tidak berubah: tarik tambang, balap karung, makan kerupuk, panjat pinang, dan beberapa lomba tradisional lainnya.
Semua itu tentu memiliki nilai kebersamaan dan sejarah tersendiri. Tidak ada yang salah dengan mempertahankannya.
Namun, masalah muncul ketika seluruh energi perayaan kemerdekaan hanya berputar pada kegiatan sama tanpa inovasi yang berarti.
Saat ini, generasi muda hidup di zaman berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh di tengah perkembangan teknologi, kreativitas digital, kecerdasan buatan, dan berbagai bentuk interaksi sosial yang jauh lebih dinamis.
Ketika perayaan kemerdekaan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, maka yang muncul adalah kejenuhan.
Bukan karena mereka tidak mencintai Indonesia, melainkan karena cara merayakan Indonesia tidak lagi mampu menghadirkan pengalaman baru dan mengesankan.
Sebagian besar masyarakat mungkin tidak mengetahui secara pasti mengapa balap karung atau panjat pinang menjadi simbol perayaan kemerdekaan.
Bahkan, tidak sedikit yang mengira bahwa lomba-lomba tersebut merupakan bagian resmi dari sejarah perjuangan bangsa.
Padahal, berbagai bentuk perlombaan itu berkembang sebagai ekspresi kegembiraan rakyat setelah Indonesia merdeka, bukan sebagai simbol utama kemerdekaan itu sendiri.
Artinya, perlombaan tersebut hanyalah salah satu cara merayakan kemerdekaan, bukan satu-satunya cara harus dipertahankan selamanya.
Sudah saatnya bangsa ini mulai memikirkan alternatif perayaan lebih relevan dan bermakna.
Misalnya, lomba inovasi teknologi untuk pelajar, festival ide bisnis bagi generasi muda, atau gerakan nasional membersihkan sungai.
Termasuk kegiatan memberikan penghargaan sederhana kepada guru mengaji, petugas kebersihan, kader kesehatan, penjaga keamanan, atau warga yang berjasa.
Banyak pahlawan sosial yang bekerja diam-diam tanpa pernah mendapat penghargaan.
Bukankah kemerdekaan juga berarti kemampuan bangsa untuk menciptakan masa depan yang lebih baik?
Jika demikian, maka merayakan kemerdekaan melalui kreativitas, inovasi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat menjadi sangat masuk akal.
Perayaan dengan cara-cara itu dapat menjadi bentuk penghormatan yang lebih substansial terhadap perjuangan para pendiri bangsa.
Kemerdekaan tidak hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang membangun masa depan.
Bangsa besar adalah bangsa yang mampu menjaga tradisi sekaligus berani berinovasi.
Tarik tambang, balap karung, dan panjat pinang tetap dapat dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya perayaan rakyat.
Namun, kita tidak boleh terjebak dalam anggapan bahwa kemerdekaan hanya bisa dirayakan melalui cara-cara tersebut.
Indonesia telah berubah, masyarakat telah berubah, dan tantangan zaman pun telah berubah.
Maka, cara kita merayakan kemerdekaan juga perlu berkembang. Kemerdekaan adalah simbol kebebasan, termasuk kebebasan untuk menemukan cara-cara baru mengekspresikan cinta kepada bangsa.
Karena itu, jika hari ini sebagian masyarakat terlihat kurang antusias mengikuti perayaan kemerdekaan, jangan terburu-buru menuduh mereka kurang nasionalis.
Mungkin saja mereka membutuhkan adalah pengalaman baru yang membuat mereka kembali merasakan kebanggaan menjadi bagian dari Indonesia.
Sebab, nasionalisme yang hidup bukanlah nasionalisme dipaksa oleh kebiasaan, melainkan tumbuh dari keterlibatan, makna, dan harapan akan masa depan bangsa.
Ditafsirkan secara Politik
Bisa saja ada tafsir politik dari kekurangan antusiasme perayaan kemerdekaan.
Sebagian orang buru-buru menafsirkan, rakyat sedang tidak mendukung penguasa. Padahal, bisa jadi persoalannya sederhana, yaitu rakyat sedang jenuh.
Kata Georg Simmel, sosiolog Jerman, (1903), sesuatu yang terus-menerus diulang akan mengalami blasé attitude, yaitu kondisi ketika orang tidak lagi merasakan gairah terhadap hal yang sebenarnya tetap bernilai.
Kita harus membedakan antara kebosanan dan perlawanan. Orang bisa sangat mencintai negaranya, tetapi tetap jenuh dengan ritual terus diulang tanpa pembaruan.
Ibarat seseorang yang tetap mencintai keluarganya meskipun bosan mendengar cerita yang sama selama puluhan tahun.
Cinta tidak hilang, yang hilang adalah kejutan, makna baru, dan pengalaman menyegarkan.
Ironisnya, kebosanan rakyat sering dijadikan bahan bakar narasi politik. Ada yang menggorengnya sebagai tanda kegagalan pemerintah.
Ada pula menganggapnya sebagai bukti kemunduran nasionalisme.
Dalam konteks perayaan kemerdekaan, menurunnya antusiasme sebagian masyarakat tidak otomatis menunjukkan ketidakberpihakan kepada pemerintah.
Bisa jadi yang terjadi adalah kejenuhan terhadap bentuk perayaan yang tidak mengalami pembaruan.
Karena itu, perlu dievaluasi bukan kecintaan rakyat kepada bangsa, melainkan kemampuan kita menghadirkan pengalaman baru yang membuat kemerdekaan kembali terasa relevan, menyentuh, dan bermakna.
Nasionalisme tidak selalu menurun; kadang yang menurun hanyalah daya tarik ritualnya. Kebosanan bukan selalu gejala politik.
Kadang-kadang ia hanyalah sinyal bahwa masyarakat sedang meminta kreativitas.
Yang mengkhawatirkan bukan rakyat yang bosan. Yang mengkhawatirkan adalah ketika negara gagal membaca pesan di balik kebosanan itu.
Penulis adalah Pengajar pada Program Studi Hukum Tata Negara UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Sumber: kompas.com
« Prev Post
Next Post »
