Berita Terbaru

Mendagri Tito Ajak Pemda dan Forkopimda Galakkan Gerakan Indonesia ASRI

By On September 05, 2026

Mendagri M. Tito Karnavian dalam ajang Apresiasi Pemda Berprestasi Tahun 2026 Batch II Regional Kalimantan di Hotel Platinum, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), Kamis, 03 September 2026. 

JAKARTA, KabarXXI.Com - Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian mengajak Pemerintah Daerah (Pemda) bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) memperkuat gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (Asri). 

Gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong terciptanya lingkungan perkotaan yang bersih dan tertata, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. 

"Beliau (Presiden) ingin agar kita, semua program, pusat dan daerah, untuk membuat kota menjadi bersih. Artinya, pengurangan sampah, baik dari hulu, semenjak di rumah tangga, maupun di hilir,” kata Tito dalam rilis persnya dikutip, Jumat, 04 September 2026. 

Hal tersebut disampaikan Tito dalam ajang Apresiasi Pemda Berprestasi Tahun 2026 Batch II Regional Kalimantan di Hotel Platinum, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), Kamis, 03 September 2026. 

Tito menegaskan, persoalan sampah perlu ditangani secara menyeluruh, mulai dari sumber hingga pengelolaannya di hilir. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengolah sampah menjadi energi. 

Selain itu, ia menyampaikan bahwa Presiden Prabowo juga mendorong penanganan sampah melalui konsep 3R, yakni reduce, reuse, dan recycle. 

Upaya tersebut dapat diperkuat melalui kegiatan korve atau kerja bakti secara gotong royong yang selama ini telah dilakukan oleh sejumlah instansi. 

Menurut Tito, Pemda memiliki kewenangan serta peran strategis untuk memastikan gerakan Indonesia Asri berdampak nyata. 

Dia mengatakan, keterlibatan seluruh jajaran pemda secara rutin dapat menjadi kekuatan penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih. 

"Kalau semua kepala daerah, seluruh gubernur-gubernur, bupati, wali kota semua membuat kebijakan yang sama, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) semua membuat kebijakan yang sama, bersihlah sebagian,” ujarnya. 

Selain persoalan sampah, Tito juga mengatakan bahwa Presiden Prabowo juga memberikan perhatian terhadap kerapian tata kota, termasuk penataan media promosi di ruang publik. 

"Presiden meminta pemasangan spanduk dan baliho dilakukan secara lebih tertib dengan tetap memperhatikan estetika," ujarnya. 

Menurutnya, penataan tersebut dapat mengacu pada praktik di negara-negara maju, misalnya dengan memanfaatkan videotron sebagai media promosi sehingga tata ruang kota tetap terlihat rapi dan indah. 

Perhatian terhadap kebersihan dan lingkungan tersebut turut tercermin dalam ajang Apresiasi Pemda Berprestasi Tahun 2026 Batch II yang memasukkan kategori Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Asri. 

Tito berharap, kategori tersebut dapat mendorong pemda untuk terus memperkuat kualitas pengelolaan sampah serta menciptakan lingkungan yang lebih baik. 

“Tadi saya barusan diskusi dengan Ibu Wini (Kepala BPS), beliau meminta dimasukkan satu lagi (kategori penilaian), yaitu masalah pertumbuhan ekonomi karena pertumbuhan ekonomi daerah juga perlu dan semua pemda paham cara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Biar nanti sama-sama belajar,” pungkasnya. (*/red)

Gus Alex Ungkap 24 Panja DPR Minta 3.000 Riyal saat Kunker ke Arab Saudi 2024

By On September 05, 2026

Terdakwa kasus dugaan korupsi kuota haji tambahan tahun 2023-2024, Ishfah Abidal Azis alias Gus Alex. 

JAKARTA, KabarXXI.Com - Mantan staf khusus Menteri Agama Ishfah Abidal Aziz alias Gus Alex mengungkap adanya permintaan uang dari 24 anggota Panitia Kerja (Panja) Komisi VIII DPR saat melakukan kunjungan kerja ke Arab Saudi pada 2024. 

Hal itu disampaikan Gus Alex, terdakwa korupsi kuota haji tersebut, saat bertanya ke mantan Direktur Pengelolaan Dana Haji dan Sistem Informasi Haji Terpadu Kementerian Agama, Jaja Jaelani, dalam sidang perkara dugaan korupsi kuota haji di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Jumat dini hari, 04 September 2026. 

"Saudara Saksi tahu atau Saudara Saksi ingat bahwa saya sampaikan 24 orang tersebut masing-masing meminta uang, awalnya 3.000 riyal per orang," ujar Gus Alex dalam persidangan. 

Gus Alex kemudian menyebut dirinya tidak mampu memenuhi seluruh permintaan tersebut. 

"Kemudian saya hanya mampu menyiapkan dari uang honor saya sebesar 1.500 riyal per orang. Saya pernah ceritakan itu?" tanya Gus Alex. 

"Iya, betul. Bapak cerita," jawab Jaja. 

Gus Alex kemudian meminta Jaja memastikan tiga Pimpinan Komisi VIII yang sebelumnya disebut dalam pembicaraan mereka. 

"Apakah benar tiga orang yang saya ceritakan bertemu dengan saya itu pertama Pak Marwan Dasopang, kedua Pak Abdul Wachid, dan ketiga Pak Ashabul Kahfi?" tanya Gus Alex. 

"Iya, betul," jawab Jaja. 

Diketahui sebelumnya, Gus Alex juga mengungkap bahwa dirinya menemui tiga pimpinan Komisi VIII di restoran Al Romansiyah, Aziziyah, Arab Saudi. 

Pertemuan itu disebut terjadi setelah staf Komisi VIII bernama Yusuf menghubunginya dan menyampaikan bahwa pimpinan ingin bertemu. 

Dalam pemeriksaan tersebut, Gus Alex juga menanyakan apakah dirinya pernah bercerita kepada Jaja bahwa pimpinan Komisi VIII dan pimpinan Panja meminta dirinya memungut uang dari penyedia katering. 

Namun, Jaja mengaku tidak mengingat pembicaraan tersebut. 

"Saudara Saksi ingat bahwa saat pertemuan tersebut saya ceritakan kepada Saudara Saksi bahwa pimpinan Komisi VIII dan pimpinan Panja meminta saya memungut uang dari penyedia katering?" tanya Gus Alex. "Kalau yang itu saya enggak ada, enggak ada, Pak," jawab Jaja. 

Selain itu, Gus Alex menanyakan soal permintaan untuk menyiapkan uang belanja oleh-oleh. 

"Saudara Saksi ingat bahwa saat pertemuan tersebut saya diminta menyiapkan sejumlah uang tertentu untuk belanja oleh-oleh?" tanya Gus Alex. 

"Iya, betul," jawab Jaja. Gus Alex kemudian menegaskan kembali bahwa dirinya pernah menceritakan hal tersebut kepada Jaja. 

"Iya, betul," jawab Jaja. 

Dalam perkara korupsi kuota haji ini, sejumlah terdakwa yakni mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, mantan staf khusus Menteri Agama Ishfah Abidal Aziz alias Gus Alex, Direktur Operasional PT Makassar Toraja (Maktour) Ismail Adham, serta Ketua Umum Asosiasi Kesatuan Tour Travel Haji Umroh (Kesthuri) sekaligus Komisaris PT Raudhah Eksati Utama, Asrul Azis Taba. 

Dalam dakwaan, KPK menyebut perkara tersebut menimbulkan kerugian negara setidak-tidaknya Rp 622,09 miliar. (*/red)

BGN Ungkap Sejumlah Kasus Keracunan MBG Sudah Naik Penyidikan Polisi

By On September 05, 2026

Kepala BGN, Sudaryono bersama Jajaran Pimpinan BGN saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, Kamis, 03 September 2026. 

JAKARTA, KabarXXI.Com - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono menyebut, pihaknya menyerahkan temuan kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada aparat penegak hukum. 

Dia memastikan aparat menyelidiki SPPG yang diduga menjadi penyebab keracunan MBG. 

"Jadi gini, pidana atau tidaknya itu tergantung hasil penyelidikan dari pihak aparat penegak hukum," ujar Sudaryono kepada wartawan usai Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR, Senayan, Jakarta, Kamis, 03 September 2026. 

Menurutnya, sejumlah dapur yang menyebabkan keracunan MBG diselidiki oleh pihak Kepolisian. 

Dia menyebut, ada yang sudah naik ke penyidikan. 

"Sejauh ini laporan yang kami terima dari Kepolisian, beberapa titik dapur yang kemudian menyebabkan gangguan kesehatan keracunan makanan itu dilakukan penyelidikan dan ada yang sudah naik penyidikan," tuturnya. 

"Nah, apakah ada yang tersangka atau tidak, kita serahkan kepada hasil penyidikan atau penyelidikan oleh aparat penegak hukum di lapangan. Gitu kira-kira," imbuhnya. 

Sudaryono mengatakan, pihaknya tengah beres-beres tata kelola MBG dari kepemimpinan sebelumnya. 

Dia mengaku drop saat mengetahui ada temuan kasus keracunan baru-baru ini. 

"Kami pastikan kami berusaha keras, ya, bagaimana.. Kami tadi sudah, sudah jelaskan juga di dalam. Dari kasus keracunan yang ada itu kalau kita breakdown, itu 80-90% tuh karena tidak taat SOP," ujanya. 

Sudaryono mengaku terpukul dengan temuan keracunan MBG di sejumlah wilayah. 

Dia berjanji akan memperbaiki tata kelola MBG secara menyeluruh. 

"Beberapa hari terakhir ini kemudian tersebar berita adanya keracunan di Sidoarjo, di Agam, kemudian tadi di mana? Di Lasem ya, ini di Rembang ya. Ini tentu saja kami sangat, sangat terpukul sebetulnya. Tapi ini dan kami tidak boleh menyerah. Insya Allah ini kami, kita perbaiki semua tata kelolanya," pungkasnya. (*/red)

Menyoal Alat Sensor Keracunan dalam Program MBG

By On September 05, 2026

Ratusan santri dari salah satu Ponpes di wilayah Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, diduga mengalami keracunan saat menyantap menu MBG. 

Oleh: M. Iqbal Nurmansyah 

Kasus dugaan keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memunculkan pertanyaan mendasar tentang keamanan pangan dalam program berskala sangat besar ini. 

Salah satu masalah fundamental program tersebut ialah kecepatan implementasi yang melebihi kesiapan sistem keamanan pangan. 

Dengan kondisi tersebut, pemerintah saat ini mengejar berbagai strategi untuk meningkatkan sistem keamanan pangan. Salah satu respons terbaru datang melalui teknologi. 

Badan Gizi Nasional (BGN) meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat pengembangan sensor uap makanan agar dapat diproduksi secara massal. 

Teknologi yang masih berupa prototipe tersebut dirancang untuk menangkap dan menganalisis senyawa yang menguap dari makanan sehingga perubahan kualitas atau indikasi kontaminasi dapat diketahui sebelum makanan dibagikan kepada penerima manfaat. 

Inovasi semacam ini tentu patut diapresiasi. Teknologi dapat menjadi instrumen tambahan untuk meningkatkan keamanan pangan. 

Namun, persoalannya muncul jika teknologi tersebut kemudian ditempatkan sebagai jawaban utama terhadap kasus keracunan MBG. 

Dalam keselamatan pangan, menemukan makanan yang sudah tidak aman sebelum diberikan kepada anak memang lebih baik daripada menemukannya setelah anak mengalami keracunan. 

Akan tetapi, jauh lebih baik lagi jika makanan tersebut sejak awal tidak pernah sampai pada kondisi tidak aman. Dengan kata lain, tantangan terbesar MBG bukan semata bagaimana mendeteksi makanan bermasalah di ujung proses produksi. 

Tantangannya adalah bagaimana membangun sistem yang mencegah bahaya sejak bahan makanan datang ke dapur hingga makanan akhirnya dikonsumsi. 

Jangan Hanya Jaga Pintu Terakhir

Bayangkan sistem keamanan pangan sebagai beberapa pintu yang harus dilewati sebuah bahaya sebelum akhirnya mencapai konsumen. 

Jika enam pintu pertama terbuka lebar, memasang penjaga yang sangat canggih di pintu ketujuh tentu membantu. Namun, kita tetap memiliki sistem rapuh. 

Dalam ilmu keselamatan, pendekatan ini dapat dijelaskan melalui Swiss Cheese Model. Model yang awalnya banyak digunakan dalam kajian keselamatan kemudian dikembangkan untuk menjelaskan kejadian penyakit akibat pangan. 

Sebuah studi dalam jurnal Food Control oleh da Cunha mengembangkan sistem pertahanan keamanan pangan ke dalam tujuh lapisan: fasilitas yang memadai; pelatihan; bahan makanan dan air yang aman; kebersihan lingkungan; kebersihan personal dan makanan; pengendalian suhu makanan; serta kontrol dan sistem pengawasan. Setiap lapisan berfungsi sebagai penghalang agar bahaya tidak sampai menimbulkan kerugian. 

Disebut Swiss cheese karena setiap lapisan yang bisa tidak sempurna. Seperti lembaran keju Swiss, selalu terdapat “lubang”. Seorang petugas mungkin sudah mendapatkan pelatihan tetapi suatu hari lalai mencuci tangan. 

Lemari pendingin tersedia tetapi suhunya tidak terpantau. Bahan makanan berkualitas baik tetapi proses distribusinya terlalu lama. 

SOP tersedia tetapi pengawasan lemah. Satu kesalahan belum tentu menyebabkan keracunan karena seharusnya masih ada lapisan perlindungan berikutnya. 

Masalah terjadi ketika “lubang” dalam berbagai lapisan tersebut berada pada posisi yang sama sehingga bahaya dapat menembus seluruh sistem. 

Studi tersebut bahkan menemukan efek berantai: kelemahan pada kontrol administratif, seperti fasilitas dan pelatihan, dapat memengaruhi perilaku keamanan pangan pada lapisan berikutnya. 

Dalam kerangka ini, sensor makanan tetap dapat memiliki tempat. Namun, posisinya lebih tepat sebagai lapisan tambahan di bagian akhir, bukan sebagai pengganti lapisan-lapisan sebelumnya. 

Keracunan Terjadi Jauh Sebelum Sensor Bekerja

Dari Swiss Chesee Model kita dapat berkaca bahwa masalah keamanan makanan dapat dimulai bahkan sebelum proses memasak. 

Apakah bahan baku berasal dari pemasok yang memenuhi standar? Apakah air yang digunakan aman? Bagaimana penyimpanan bahan makanan? Apakah terjadi kontaminasi silang? 

Setelah itu, masih ada persoalan kebersihan dapur, sanitasi peralatan, kebersihan tangan petugas, proses memasak, waktu makanan dibiarkan pada suhu ruang, pengemasan, hingga distribusi. 

Artinya, ketika sensor akhirnya mendeteksi makanan sudah mengalami perubahan kualitas, sebagian besar sumber daya sebenarnya telah dikeluarkan. 

Bahan sudah dibeli. Petugas sudah bekerja. Makanan sudah dimasak. Energi sudah digunakan. Makanan mungkin sudah dikemas dan bahkan telah dikirim ke sekolah. 

Jika kemudian seluruh makanan harus dibuang, sensor memang berhasil mencegah konsumen memakannya. Namun, sistem tetap menghasilkan kerugian ekonomi berupa bahan pangan, tenaga, energi, dan biaya distribusi yang terbuang. 

Karena itu, pendekatan yang hanya berfokus pada deteksi akhir berpotensi menjadi mahal. Seharunya pencegahan kontaminan dilakukan sedini mungkin. 

Hal tersebut tentu lebih baik daripada menemukan produk yang sudah terkontaminasi di ujung rantai produksi. Situasi terkini menunjukkan, persoalan keamanan MBG tidak dapat dipandang sebagai insiden yang berdiri sendiri. 

BGN sendiri mengakui perlunya penguatan kepatuhan terhadap standar operasional prosedur setelah berbagai insiden keamanan pangan. Ketika kasus terjadi, dapur terkait dapat dihentikan sementara, sampel makanan diperiksa, dan investigasi dilakukan untuk mencari penyebab. 

Lebih jauh, hingga 10 Agustus 2026, BGN menyatakan telah menutup ratusan dapur MBG yang dinilai tidak layak. Fakta bahwa ratusan dapur sampai harus ditutup karena persoalan sanitasi justru memberi pesan penting: persoalannya tidak cukup diselesaikan dengan menambahkan alat di meja pemeriksaan akhir. 

Yang terlebih dahulu perlu dipastikan adalah apakah seluruh dapur memang memiliki prasyarat untuk menghasilkan makanan aman secara konsisten. Hal-hal tersebut memang tidak secanggih sensor uap. 

Namun, justru di sanalah fondasi keamanan pangan dibangun. Jika Swiss Chesee Model diterapkan secara sederhana pada MBG, prioritas kebijakan dapat dimulai dari tujuh lapisan. 

Pertama, memastikan fasilitas dapur memadai. Kedua, memastikan seluruh pekerja mendapatkan pelatihan dan pendidikan keamanan pangan secara berkala, bukan sekadar satu kali sebelum dapur dibuka. 

Ketiga, memastikan bahan baku dan air aman, termasuk sistem pemasok yang dapat ditelusuri. Keempat, menjaga higiene lingkungan, termasuk sanitasi dapur, pengendalian limbah, dan hama. 

Kelima, memperkuat higiene personal dan penanganan makanan. Keenam, memastikan suhu makanan aman sejak penyimpanan, proses memasak, hingga distribusi. 

Ketujuh, membangun sistem kontrol dan pengawasan yang mampu menemukan kegagalan sebelum berujung pada kejadian keracunan. 

Baru setelah semua itu berjalan, sensor uap BRIN dapat menjadi lapisan tambahan yang bernilai. Dengan posisi seperti itu, teknologi bukan menjadi “obat” bagi sistem yang rapuh, tetapi alat yang memperkuat sistem yang sudah bekerja. 

Tidak perlu sinis terhadap keinginan memanfaatkan teknologi untuk memperbaiki MBG. Indonesia masih membutuhkan inovasi untuk mengelola program sebesar ini. 

Sensor, sistem digital, pelacakan rantai pasok, pemantauan suhu otomatis, hingga analisis data dapat membantu mengurangi risiko. 

Namun, teknologi sering kali menawarkan daya tarik politik dan administratif karena ia mudah terlihat.  

Sebaliknya, pelatihan pekerja, perubahan perilaku, inspeksi rutin, budaya keselamatan, dan kepatuhan terhadap SOP jauh kurang menarik untuk difoto. 

Padahal elemen-elemen itulah yang menentukan apakah makanan aman setiap hari. Karena itu, pertanyaan kebijakan yang perlu diajukan bukan “seberapa cepat sensor BRIN dapat diproduksi massal?” 

Pertanyaan yang lebih penting ialah: mengapa makanan bisa menjadi tidak aman sebelum mencapai sensor tersebut? 

Sensor uap boleh menjadi salah satu lapisan perlindungan MBG. Tetapi jangan sampai kita sibuk membangun alarm yang mampu berbunyi ketika makanan sudah rusak. 

Sementara lubang-lubang pada enam lapisan sebeslumnya tetap dibiarkan terbuka. 

BGN juga tak perlu terburu-buru memproduksi massal sensor tersebut, mulailah dari skala kecil berbarengan dengan perbaikan sistematis lainnya. 

Dalam program pangan berskala nasional, keselamatan tidak dibangun dari satu alat canggih di ujung proses.

Keselamatan dibangun dari serangkaian pekerjaan yang sering kali terlihat sederhana dan membosankan—air bersih, dapur yang layak, suhu yang terjaga, tangan yang bersih, pekerja yang terlatih, serta pengawasan yang konsisten. 

Justru karena jutaan anak bergantung pada program ini, pekerjaan-pekerjaan “membosankan” itulah yang tidak boleh dilewati. 

Penulis adalah Dosen kebijakan kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 

Sumber: kompas.com

Pemasangan Bronjong Pinggir Sungai Air Tampulan Jalan Provinsi Sumbar Kumpulan Padang Sawah Diduga Tanpa Galian dan Pengawasan

By On September 05, 2026

SUMBAR, KabarXXI.Com - Pemasangan Bronjong di tepi sungai Air Tampulan Batu Hampar Nagari Koto Kaciak Barat diduga tanpa galian dan tanpa pengawasan dan plang merek. Padahal pemasangan Bronjong tersebut memakai uang negara, anggaranya berasal dari anggaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat (Sumbar). 

Lebar bronjong yang dipasang tersebut diduga agak teralu kecil lebarnya. Tentunya kekuatanya kurang bagus. Padahal apabila air besar, air tersebut lansung menumbuk Bronjong tersebut. Kalau pemasanganya tanpa galian yang dalam alhasil kekuatanya sangat diragukan. 

Warga setempat yang tidak mau disebutkan namanya kepada awak media ini, Sabtu, 05 September 2026 mengatakan, pemasangan bronjong tersebut tanpa galian. Kalau ada galian tentunya digali dengan exsapator. 

"Namun kami di sini tidak pernah melihat exsapator bekerja dan anehnya lagi pengawas pun tidak pernah kami melihatnya di sini," ujarnya.

Salah seorang warga berinisial KT menambahkan, pemasangan bronjong tanpa galian, hanya digali sama cangkul yang dikerjakan manusia.

"Setahu saya pemasangan bronjong biasanya sebelum dipasang harus digali dulu agak dalam baru dipasang bronjong. Supaya kekuatanya sangat kuat dan bagus. Namun ini digali sama cangkul oleh manusia, tentunya kekuatanya tidak ada. Untuk itu, kami meminta kepada Pemprov supaya proyek ini diawasi, dan supaya berjalan dengan semestinya," ucapnya. (*/red)

Koramil 0602-06/Kramatwatu Gelar Olahraga Bersama Forkopimcam dan Masyarakat

By On September 04, 2026

Koramil 0602-06/Kramatwatu menggelar kegiatan olahraga bersama dengan Forkopimcam dan masyarakat, di Alun-alun Kecamatan Kramatwatu, Jumat, 04 September 2026. 

SERANG, KabarXXI.ComDalam rangka mempererat tali silaturahmi dan meningkatkan kebugaran fisik, Koramil 0602-06/Kramatwatu menggelar kegiatan olahraga bersama dengan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) dan masyarakat Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten. 

Kegiatan tersebut berlangsung di Alun-alun Kecamatan Kramatwatu, Jumat, 04 September 2026. 

‎Danramil 0602-06/Kramatwatu, Mayor Cke Dandi Irwansyah, turut hadir dan memimpin langsung jalannya kegiatan tersebut. 

Kehadiran Danramil disambut antusias oleh para peserta yang terdiri dari unsur Muspika, tokoh masyarakat, serta warga setempat. 

Kegiatan olahraga bersama ini merupakan salah satu bentuk nyata kepedulian TNI terhadap masyarakat serta upaya menjaga kebugaran dan kesehatan bersama. 

‎Dalam sambutannya, Danramil menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya tentang berolahraga, tetapi juga sebagai ajang untuk memperkuat komunikasi dan sinergi antara TNI, pemerintah kecamatan, dan seluruh elemen masyarakat. 

"Dengan sehat dan bugar, kita dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lebih produktif. Semoga kebersamaan ini terus kita jaga demi kemajuan Kecamatan Kramatwatu," ujarnya. 

‎Kegiatan olahraga pagi ini ditutup dengan sesi foto bersama dan ramah tamah, mencerminkan suasana kekeluargaan yang hangat antara aparat dan warga. 

Koramil 0602-06/Kramatwatu berkomitmen untuk terus mengadakan kegiatan serupa secara rutin guna mendukung terciptanya lingkungan masyarakat yang sehat, dinamis, dan harmonis. (*/red)

Antrean Panjang Truk di SPBU Ciagel Bikin Resah, Dikeluhkan Pengguna Jalan

By On September 03, 2026

SERANG, KabarXXI.ComAntrean panjang kendaraan truk pengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar di SPBU 34-42120 Ciagel, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang, Banten, kembali dikeluhkan warga dan pengguna jalan. 

Pantauan di lokasi, antrean truk mengular hingga ratusan meter keluar area SPBU dan menutup sebagian badan Jalan Raya Serang - Jakarta. Akibatnya arus lalu lintas tersendat, terutama pada jam sibuk pagi dan sore. 

Para sopir mengaku harus mengantre sejak subuh untuk mendapatkan solar bersubsidi. Keterbatasan kuota dan keterlambatan pasokan disebut menjadi penyebab utama antrean. 

Sementara itu, warga sekitar mengaku sangat terganggu. Aktivitas keluar masuk rumah dan usaha terhambat karena badan jalan tertutup truk. 

“Kami sudah lama merasakan ini. Setiap hari macet karena antrean solar. Anak sekolah juga susah lewat. Kami minta ada solusi cepat,” ujar salah satu warga Ciagel. 

Para pengguna jalan meminta tiga hal dan mendesak kepada pihak terkait: 

1.  Pengawasan ketat dari Pertamina Patra Niaga terhadap pendistribusian dan kuota solar di SPBU 34-42120. 

2.  Penertiban dan pengaturan lalu lintas oleh Dishub dan Kepolisian Sektor Kibin. 

3.  Penambahan kuota solar bersubsidi atau pengaturan jam khusus untuk kendaraan truk besar. 

Ahmad, salah seorang pengguna jalan mengatakan, pihaknya meminta agar pengelola SPBU Ciagel berkordinasi dengan petugas kepolisian untuk mengurai antrean panjang kendaraan truk pengisi solar tersebut. 

“Kami minta pengelola SPBU dan aparat terkait segera berkoordinasi untuk mengurai antrean. Jangan sampai antrean BBM mengganggu ketertiban umum dan keselamatan pengguna jalan,” pungkasnya. 

Hingga berita ini ditayangkan, pihak management SPBU dan Satlantas Polres Serang belum memberikan keterangan. (*/red)

Sekretaris DPC Taruna Merah Putih Kabupaten Bogor Imbau Warga Hormati Penuh Penyidikan KPK

By On September 03, 2026

BOGOR, KabarXXI.ComSekretaris DPC Taruna Merah Putih Kabupaten Bogor, Kusmawan atau Wawan mengajak seluruh masyarakat agar menghormati sepenuhnya proses penyidikan yang tengah dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor. 

Menurut Wawan, penyidikan KPK adalah bagian dari penegakan hukum yang wajib didukung, bukan dipolitisasi atau dihalang-halangi oleh opini di ruang publik. 

“Kami minta masyarakat Kabupaten Bogor menghormati penyidikan KPK. Berikan ruang penuh kepada KPK untuk bekerja sesuai hukum dan aturan yang berlaku. Jangan ganggu, jangan tekan, dan jangan menyebarkan narasi yang bisa mengganggu proses hukum,” ujar Wawan, Kamis, 03 September 2026. 

Ia menegaskan, menghormati KPK bukan berarti menghakimi siapa pun. Asas praduga tidak bersalah tetap harus dijunjung tinggi sampai ada putusan berkekuatan hukum tetap. 

“Hormati penyidikan KPK, jaga asas praduga tak bersalah. Dua hal ini harus jalan beriringan. Jangan sampai karena emosi atau informasi setengah-setengah, kita justru membuat gaduh dan mencederai proses hukum itu sendiri,” katanya. 

Wawan juga mengimbau warga untuk tidak mudah terprovokasi dan tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. 

“Kita tenang, berpikir jernih, dan serahkan sepenuhnya kepada KPK. Lembaga negara itu bekerja berdasarkan bukti dan aturan. Tugas kita sebagai warga adalah mendukung agar hukum ditegakkan,” ujarnya. 

Ia menekankan Kabupaten Bogor harus tetap kondusif selama proses hukum berjalan. Perbedaan informasi tidak boleh menjadi pemicu perpecahan. 

“Bogor rumah kita bersama. Jaga persatuan. Jangan karena isu hukum lalu kita saling berhadapan,” ucapnya. 

Terkait pelayanan publik, Wawan meminta roda pemerintahan Kabupaten Bogor tetap berjalan normal dan profesional. 

“Proses hukum dan pelayanan masyarakat adalah dua hal berbeda yang harus tetap berjalan proporsional. Program pembangunan dan pelayanan dasar tidak boleh berhenti,” katanya. 

Wawan menutup imbauannya dengan mengajak seluruh elemen masyarakat mendukung kerja KPK. 

“Mari kita percayakan sepenuhnya kepada KPK. Kita dukung penyidikan berjalan objektif, transparan, dan tuntas. Ini momentum kita bersama untuk mendorong pemerintahan yang bersih, akuntabel, dan berpihak kepada rakyat,” pungkasnya. (Hari Setiawan)

SDN 24 Pangkalpinang Hormati Masukan, Sekolah Sampaikan Klarifikasi agar Pemberitaan Lebih Berimbang

By On September 03, 2026

PANGKALPINANG, KanarXXI.Com - Polemik komunikasi antara guru dan orang tua peserta didik di SD Negeri 24 Pangkalpinang berujung pada keputusan keluarga untuk memindahkan anaknya ke sekolah lain. 

Persoalan tersebut mencuat setelah pihak sekolah menerima keberatan dari orang tua peserta didik pada 17 Agustus 2026. 

Menindaklanjuti keberatan tersebut, pihak sekolah melakukan klarifikasi terhadap guru yang bersangkutan pada 18 Agustus 2026 dan memberikan pembinaan sebagai bagian dari evaluasi internal. 

Kepala SD Negeri 24 Pangkalpinang, Kusnita mengatakan, persoalan bermula dari komunikasi terkait kebutuhan belajar peserta didik. Sebelumnya, sekolah menganjurkan dilakukannya asesmen psikologis untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi dan kebutuhan belajar anak. 

Menurut Kusnita, anjuran tersebut bukan dimaksudkan untuk memberikan label maupun membedakan peserta didik dengan anak lainnya. 

“Tujuannya adalah untuk membantu guru dan orang tua memahami kebutuhan anak secara lebih baik. Dengan adanya informasi yang tepat, sekolah dapat menyesuaikan bentuk pendampingan dan pendekatan pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik,” ujar Kusnita. 

Meski demikian, pihak sekolah mengakui bahwa cara menyampaikan informasi kepada orang tua merupakan bagian penting yang harus menjadi perhatian tenaga pendidik. 

“Sebagai Kepala Sekolah, saya melihat bahwa upaya untuk berkomunikasi dengan orang tua pada dasarnya merupakan bagian dari perhatian terhadap perkembangan peserta didik. Namun, kami juga memahami bahwa cara penyampaian suatu informasi sangat penting dan dapat menimbulkan persepsi yang berbeda,” katanya. 

Guru Diklarifikasi dan Diberi Pembinaan

Setelah menerima keberatan dari orang tua, sekolah bergerak melakukan klarifikasi terhadap guru yang bersangkutan pada 18 Agustus 2026. 

Kusnita menyebut klarifikasi tersebut kemudian dilanjutkan dengan pembinaan. Langkah itu, menurutnya, bukan semata-mata untuk menentukan pihak yang benar atau salah, melainkan sebagai evaluasi agar pelayanan pendidikan dan pola komunikasi sekolah dapat diperbaiki. 

“Setelah menerima masukan dari orang tua, kami segera melakukan klarifikasi dan pembinaan. Ini bukan semata-mata untuk mencari siapa yang benar atau salah, tetapi sebagai bahan evaluasi agar pelayanan pendidikan dan komunikasi kami ke depan dapat menjadi lebih baik,” ujarnya. 

Tak berhenti pada pembinaan terhadap guru yang bersangkutan, sekolah juga melakukan penguatan kapasitas seluruh tenaga pendidik melalui kegiatan In House Training (IHT) pada 24 Agustus 2026. 

Kegiatan tersebut menghadirkan psikolog sebagai narasumber dan diikuti seluruh guru SD Negeri 24 Pangkalpinang. Materi yang diberikan antara lain psikologi anak, karakteristik peserta didik, tahapan perkembangan anak, serta pendekatan yang tepat dalam mendampingi peserta didik di lingkungan sekolah. 

Kusnita menegaskan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari evaluasi menyeluruh dan tidak hanya ditujukan kepada guru yang berkaitan dengan persoalan. 

“Penguatan ini bukan hanya ditujukan kepada satu atau dua orang guru. Kami mengajak seluruh guru untuk terus belajar bersama dan memperkuat pemahaman mengenai psikologi anak serta cara berkomunikasi dan mendampingi peserta didik dengan lebih baik,” katanya. 


Asesmen Dilakukan Sebelum Polemik

Kusnita juga menjelaskan bahwa asesmen terhadap peserta didik sebenarnya telah dilakukan sebelum persoalan komunikasi tersebut berkembang menjadi polemik. 

Berdasarkan catatan pihak sekolah, asesmen dilakukan sekitar 22 Juli 2026, atau pada awal tahun ajaran baru. 

Kemudian pada 17 Agustus 2026, orang tua menyampaikan keberatan kepada pihak sekolah sekaligus menyerahkan hasil asesmen lanjutan dari tenaga profesional. 

Menurut Kusnita, hasil asesmen lanjutan tersebut menunjukkan kemampuan intelektual peserta didik berada pada kategori di atas rata-rata. 

Informasi tersebut kemudian menjadi salah satu bahan bagi sekolah dalam memahami karakteristik serta kebutuhan belajar peserta didik secara lebih menyeluruh.

“Kami tidak memandang diri kami sudah sempurna atau selalu benar. Jika ada hal yang perlu diperbaiki, tentu kami jadikan sebagai evaluasi,” ucapnya. 

Pihak sekolah juga menyatakan telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang untuk mendapatkan arahan dalam penyelesaian persoalan tersebut. 

Pertemuan Berujung Keputusan Pindah Sekolah

Pertemuan antara pihak sekolah dan orang tua kembali dilakukan pada 21 Agustus 2026. 

Dalam pertemuan tersebut, pihak sekolah menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan keluarga. Guru yang bersangkutan juga memberikan penjelasan mengenai maksud komunikasi sebelumnya terkait asesmen peserta didik. 

Namun, setelah proses tersebut, orang tua tetap mengambil keputusan untuk memindahkan anaknya ke sekolah lain. 

Kusnita mengatakan keputusan tersebut merupakan hak keluarga dan dihormati oleh pihak sekolah. 

“Kami menghormati keputusan orang tua yang tentunya didasarkan pada pertimbangan terbaik untuk anaknya. Dari pihak sekolah, kami tidak pernah meminta atau mengarahkan agar peserta didik tersebut pindah sekolah,” tegasnya. 

Polemik ini sekaligus menjadi catatan penting mengenai bagaimana komunikasi antara sekolah dan orang tua harus dilakukan secara hati-hati, terutama ketika menyangkut kondisi, karakteristik, maupun kebutuhan khusus seorang peserta didik. 

Bagi sekolah, asesmen psikologis dipandang sebagai salah satu instrumen untuk membantu memahami kebutuhan anak. Namun di sisi lain, penyampaian informasi kepada orang tua membutuhkan pendekatan yang tepat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau persepsi berbeda. 

Kusnita berharap persoalan tersebut tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan dan dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak. 

Ia menegaskan bahwa sekolah dan orang tua pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yakni memastikan peserta didik mendapatkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, serta mendukung tumbuh kembangnya. 

“Kami berharap persoalan ini dapat diselesaikan dengan baik dan secara kekeluargaan. Bagi kami, yang paling utama adalah kepentingan dan masa depan anak,” ujarnya. 

Pihak SD Negeri 24 Pangkalpinang juga menyatakan akan terus melakukan evaluasi terhadap pola komunikasi antara guru, peserta didik, dan orang tua agar persoalan serupa tidak kembali terjadi. 

“Tidak ada niat dari pihak sekolah untuk merendahkan atau memberikan label kepada peserta didik. Kami mengambil persoalan ini sebagai evaluasi penting agar ke depan komunikasi antara sekolah dan orang tua dapat dilakukan dengan lebih bijaksana, empatik, dan saling memahami,” pungkasnya. (Syahrial)

Kapolres Lebak Rangkul Insan Pers, Dorong Sinergitas untuk Wujudkan Lebak yang Amanah

By On September 03, 2026

LEBAK, KabarXXI.com – Upaya memperkuat komunikasi antara kepolisian dan insan pers terus dilakukan Kapolres Lebak Polda Banten AKBP Arninsi, SH, SIK, MSi. Salah satunya melalui pertemuan silaturahmi bersama pimpinan dan perwakilan organisasi wartawan di Kabupaten Lebak.

Kegiatan berlangsung di Cafe RB One, Rangkasbitung, Kamis (3/9/2026), dengan mengusung semangat meningkatkan sinergitas dengan insan media guna mewujudkan Kabupaten Lebak yang amanah, aman dan kondusif.

Kapolres Lebak hadir didampingi Wakapolres Lebak Kompol Eddy Prastyo H., SE, MM, Kasat Reskrim AKP Fredo Leonard, S.Tr.K., S.I.K., serta Kasi Humas Iptu Moestafa Ibnu Syafir. Sejumlah organisasi wartawan turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Dalam sambutannya, AKBP Arninsi menempatkan insan pers sebagai salah satu mitra penting kepolisian dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Menurutnya, komunikasi yang terbuka diperlukan agar informasi publik dapat tersampaikan secara faktual, berimbang dan bertanggung jawab.

Ia juga menyampaikan bahwa kritik maupun masukan dari media merupakan bagian penting dalam evaluasi kinerja kepolisian serta peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

Pesan serupa disampaikan sesepuh wartawan Lebak, H. Yahya. Ia berharap jajaran Polres Lebak dapat membuka ruang komunikasi yang lebih luas, terutama ketika wartawan membutuhkan konfirmasi mengenai persoalan yang berkembang di masyarakat.

Sementara Ketua Pokja Wartawan Lebak, Yayat, menyampaikan ucapan selamat datang kepada Kapolres Lebak sekaligus berharap pertemuan tersebut menjadi awal semakin kuatnya hubungan kemitraan antara Polri dan insan pers.

“Selamat datang kepada Kapolres Lebak. Semoga ke depan sinergitas dan hubungan dengan insan pers semakin erat,” ujarnya.

Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan dialog interaktif yang membahas sejumlah persoalan hukum, kamtibmas serta berbagai isu krusial yang menjadi perhatian masyarakat Lebak.

Ketua PPWI Lebak Abdul Kabir dalam kesempatan tersebut menanyakan perkembangan laporan sejumlah aktivis pers, LSM dan ormas terkait sebuah akun TikTok yang dinilai telah mencederai marwah dan eksistensi aktivis serta berpotensi menimbulkan kegaduhan dan ujaran kebencian.

Menjawab pertanyaan tersebut, Kasat Reskrim Polres Lebak AKP Fredo Leonard memastikan laporan yang dimaksud telah ditindaklanjuti.

“Laporan tersebut sudah kami tangani dan sudah kami atensi kepada unit yang menangani. Saat ini masih dilakukan pendalaman terhadap materi laporan dan fakta-fakta yang ada,” kata Fredo.

Ia menjelaskan, dalam perkara tersebut pihak terlapor juga telah membuat laporan. Karena itu, kepolisian menangani kedua laporan tersebut secara profesional sesuai prosedur dan ketentuan hukum yang berlaku.

“Keduanya sedang kami tangani. Kami akan melakukan pendalaman berdasarkan keterangan, fakta dan alat bukti yang diperoleh. Prinsipnya, seluruh laporan kami proses sesuai mekanisme yang berlaku,” jelasnya.

Silaturahmi tersebut menjadi momentum untuk membangun kesamaan persepsi antara Polres Lebak dan insan media, sekaligus memperkuat komunikasi dalam menjalankan fungsi masing-masing.

Sinergitas kepolisian dan pers diharapkan tidak hanya memperkuat penyampaian informasi kepada masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya bersama menjaga keamanan, ketertiban dan kondusivitas Kabupaten Lebak menuju daerah yang amanah.

Belum Genap Dua Tahun Memimpin, Gubernur Andra Soni Resmikan Tujuh Daerah Irigasi

By On September 02, 2026

Gubernur Banten, Andra Soni meresmikan tujuh DI yang tersebar di empat wilayah sentral lumbung pangan. 

SERANG, KabarXXI.Com - Di usianya yang belum genap dua tahun memimpin, Gubernur Banten, Andra Soni meresmikan tujuh Daerah Irigasi (DI) yang tersebar di empat wilayah sentral lumbung pangan. 

Peresmian ini merupakan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan daerah, peningkatan produktivitas petani serta peningkatan kesejahteraan petani. 

Tujuh Daerah Irigasi tersebut meliputi di Kabupaten Pandeglang DI Cisata, Cilember dan Cisangu Atas. Kemudian di Kabupaten Lebak, DI Cibinuangeun, Cikoncang. Lalu di Kabupaten Serang, Ciwuni. Kabupaten Tangerang, Cilampek. 

Total panjang penanganan 6,90 kilometer dan outcome layanan 881,28 hektare sawah yang terairi dengan nilai pekerjaan mencapai Rp 48,91 miliar dari APBD Provinsi Banten Tahun Anggaran (TA) 2025. 

Peresmian dilakukan terpusat di DI Cisata, Desa Tegal, Kecamatan Cikedal, Kabupaten Pandeglang, Rabu, 02 September 2026. 

Sementara enam lainnya mengikuti secara virtual yang dihadiri oleh Kepala Daerah masing-masing. 

Gubernur Banten, Andra Soni mengungkapkan, peresmian irigasi pada hari ini merupakan wujud nyata komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dalam menghadirkan layanan infrastruktur dasar yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, khususnya bagi para petani. 

"Membangun irigasi berarti membangun fondasi ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas pertanian, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani," katanya. 

Selain itu, melalui Inpres Nomor 2 Tahun 2025 untuk mendukung swasembada pangan di Provinsi Banten, dukungan APBN menjangkau 12 DI dengan panjang penanganan sekitar 81,80 kilometer dan luas layanan 9.259 hektare dengan pagu anggaran mencapai Rp 471,92 miliar. 

Melalui kolaborasi itu, luas layanan irigasi meningkat dari sebelumnya 52,5 persen menjadi 62,45 persen. Ke depan tentu program itu akan terus dikerjakan secara bertahap agar dapat terus mendukung program ketahanan pangan di Provinsi Banten. 

Termasuk penanganan di wilayah hulu agar stok air yang mengalir di irigasi terus terjaga dengan baik. 

"Kalau irigasinya sudah baik, tinggal kita tangani di wilayah hulunya. Sehingga ketika memasuki musim kemarau seperti sekarang ini, stok air ke persawahan tetap mengalir dan petani bisa terus meningkatkan produktivitasnya," jelasnya. 

Sementara itu, untuk meningkatkan kesejahteraan petani, Andra Soni akan memperluas program pertanian Modern Advanced Agricultural System (MAAS) Kementerian Pertanian di Provinsi Banten. 

Melalui sistem itu produktivitas hasil petani akan meningkat dari semula hanya sekitar 6 ton per hektare menjadi 12 ton per hektare. 

"Lahan persawahan kita lindungi, saluran irigasi kita perbaiki, wilayah hulu kita tata, harga pupuk dan padi kita jaga, produktivitas kita tingkatkan dan petani akan semakin sejahtera. Itulah komitmen kami," tegas Andra Soni. 

Dalam kesempatan itu, Andra Soni juga menyapa sejumlah petani baik yang berada di lokasi maupun yang mengikuti secara virtual. Termasuk memberikan bantuan beberapa peralatan pertanian kepada Kelompok Tani (Poktan) Telaga Baru. 

Anggota Poktan Telaga Baru, Aprudin (55) mengaku sangat terbantu dengan program revitalisasi saluran irigasi yang digagas oleh Gubernur Banten Andra Soni. 

Menurutnya, saluran irigasi Cisata itu mempunyai peranan yang sangat vital dalam menunjang pertanian masyarakat. 

"Dulu irigasi ini kurang berfungsi secara baik, sehingga yang mengalir ke sawah juga sedikit," katanya. 

Karena persoalan itu, para petani di sini hanya mampu mengandalkan air hujan. Ketika hujan turun, baru mulai tanam. Itu pun tidak maksimal karena cadangan airnya kurang. 

"Ya, kita di sini untung-untungan. Kalau airnya lagi bagus bisa panen, tapi kalau kurang apalagi sampai kemarau kayak gini ya gagal," imbuhnya. 

Hal serupa juga dikatakan Ubeh (55). Rekan Aprudin itu mengaku dalam sekali panen para petani di sini maksimal dapat sekitar 6 kuintal setiap petak sawahnya. 

Oleh karena itu, dirinya sangat menyambut baik adanya revitalisasi saluran irigasi Cisata ini. 

"Kalau sebelumnya kita hanya bisa sampai dua kali panen, tahun ini mah bisa sampai tiga kali panen dengan produktivitas yang lebih baik," katanya. 

Poktan Telaga Baru sendiri yang berjumlah sekitar 54 anggota siap menyukseskan segala program pemerintah, termasuk modernisasi metode pertanian yang digagas Gubernur Banten, Andra Soni. 

"Kita dukung program Pak Gubernur untuk modernisasi metode pertanian, apalagi itu untuk kebaikan petani," paparnya. 

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Banten, Arlan Marzan menambahkan, atas arahan dari Gubernur Andra Soni dirinya berkomitmen terus memperkuat jaringan irigasi di Provinsi Banten termasuk penataan di wilayah hulunya. 

Karena jaringan irigasi tidak menciptakan air. Ketersediaan air ditentukan dari sumber dan debit air hujan dan kondisi musim. 

Jaringan irigasi hanya memastikan setiap air yang tersedia dapat disalurkan dan dimanfaatkan sebaik mungkin oleh masyarakat dan petani. 

Menurutnya, manfaat dari pembangunan ini bukan hanya selesainya pembangunan fisik, tapi lebih dari itu para petani harus merasakan air yang tersedia dari sumber dapat dialirkan lebih lancar teratur dan efisien. 

"Kehilangan air akibat saluran dapat ditekan. Tapi dengan pembangunan irigasi ini, air dapat dioperasionalkan melalui pintu-pintu yang dibagi," ujarnya. (Welfendry)

Polres Serang Kunjungi Kejari Serang, Perkuat Sinergitas dan Silaturahmi di Hari Lahir Kejaksaan RI ke-81

By On September 02, 2026

Peringati Hari Lahir Kejaksaan RI ke-81 Tahun 2026, Polres Serang melakukan kunjungan ke Kantor Kejari Serang, Rabu, 02 September 2026. 

SERANG, KabarXXI.Com Dalam rangka memperingati Hari Lahir Kejaksaan Republik Indonesia (RI) ke-81 Tahun 2026, Polres Serang melakukan kunjungan ke Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Serang sebagai bentuk silaturahmi sekaligus mempererat sinergitas antara Kepolisian dan Kejaksaan, Rabu, 02 September 2026. 

Kunjungan tersebut dilaksanakan sekitar pukul 14.00 WIB di Kantor Kejari Serang, Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto Km.3, Kelurahan Tembong, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang. 

Kegiatan tersebut merupakan bentuk perhatian dan ucapan selamat dari jajaran Polres Serang dalam memperingati Hari Lahir Kejaksaan RI ke-81. 

Dalam kesempatan tersebut, jajaran Polres Serang turut memberikan ucapan selamat serta menyerahkan kue ulang tahun sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan kepada jajaran Kejari Serang. 

Kegiatan tersebut turut dihadiri, Wakapolres Serang, Kasi Pidum Kejari Serang, Kasat Lantas Polresta Serang Kota, Kasat Reskrim Polresta Serang Kota, Kasat Reskrim Polres Serang, Kasat Narkoba Polres Serang, serta Kasat Lantas Polres Serang. 

Selain menjadi momentum untuk menyampaikan ucapan selamat, kunjungan tersebut juga dimanfaatkan untuk mempererat tali silaturahmi dan memperkuat koordinasi antara jajaran Polri dan Kejaksaan. 

Komunikasi yang baik antarinstansi menjadi salah satu hal penting dalam mendukung pelaksanaan tugas, khususnya dalam bidang penegakan hukum. 

Wakapolres Serang, Kompol Andri Surya Kurniawan melalui kegiatan tersebut menegaskan pentingnya menjaga hubungan dan komunikasi yang baik dengan jajaran Kejaksaan. 

Menurutnya, sinergitas antara aparat penegak hukum diharapkan dapat terus terjaga dalam rangka memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. 

Kebersamaan antara Polres Serang, Polresta Serang Kota, dan Kejaksaan Negeri Serang juga diharapkan semakin memperkuat koordinasi dalam pelaksanaan tugas, khususnya dalam proses penegakan hukum di wilayah Serang. 

Kolaborasi dan komunikasi yang solid antarpenegak hukum menjadi bagian penting dalam menciptakan kepastian hukum serta menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat. 

Melalui momentum Hari Lahir Kejaksaan RI ke-81 ini, Polres Serang berharap hubungan baik dan sinergitas yang telah terjalin bersama Kejari Serang dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan. 

Semangat kebersamaan tersebut diharapkan dapat mendukung pelaksanaan tugas masing-masing institusi secara profesional serta memberikan manfaat bagi masyarakat. 

Kegiatan kunjungan dalam rangka memperingati Hari Lahir Kejaksaan RI ke-81 Tahun 2026 selesai sekitar pukul 15.00 WIB. Selama kegiatan berlangsung, situasi berjalan aman, tertib, dan lancar. (*/red)

Kebakaran Hutan di Gunung Buthak, 185 Pendaki Dikabarkan Terjebak

By On September 02, 2026

Petugas memadamkan api kebakaran hutan dan lahan di Gunung Buthak. 

MALANG, KabarXXI.Com - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) melanda kawasan Gunung Buthak tepatnya di petak 100 yang masuk wilayah Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim). 

Dikabarkan ada sebanyak 185 pendaki yang terdaftar masuk melalui jalur Panderman dan sekitarnya. 

Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto memastikan seluruh pendaki dalam keadaan selamat dan baik-baik saja. 

"Baik-baik saja. Kami sedang lakukan pendataan semua, yang pasti Alhamdulillah semua pendaki selamat," kata Gatot saat dikonfirmasi wartawan, Selasa, 01 September 2026. 

Menurut Gatot, api sudah terkendali. Personel di lapangan terus melakukan penyisiran untuk memastikan titik api telah padam. 

"Kondisi titik api saat ini terpantau sudah mulai terkendali di Petak 100, Pos 3, Gunung Buthak. Meskipun demikian, personel gabungan tetap melaksanakan patroli penyisiran secara berkala guna mengantisipasi potensi munculnya titik api baru dan mencegah perluasan area yang terbakar," tuturnya. 

"Yang pasti saat ini api sudah padam. Tim BPBD Jatim, BPBD Kabupaten Malang serta BPBD Kota Batu melakukan koordinasi dengan Tahura dalam rangka percepatan penanganan kebakaran," imbuhnya. 

Diketahui sebelumnya, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) melanda kawasan Gunung Buthak tepatnya di petak 100 yang masuk wilayah Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. 

Selain upaya pemadaman api tim gabungan juga berupaya mengevakuasi pendaki di sekitar kawasan itu. 

Kalaksa BPBD Kota Batu, Suwoko mengonfirmasi bahwa ada sebanyak 185 pendaki yang terdaftar masuk melalui jalur Gunung Panderman dan sekitarnya. 

Demi keselamatan dan langkah mitigasi bencana, seluruh pendaki di kawasan Gunung Panderman, Gunung Buthak, hingga Gunung Bokong diminta segera mengosongkan lokasi dan turun. 

"Secara identifikasi (titik api) tidak sebegitu banyaknya. Tapi kalau dari unsur mitigasi untuk penyelamatan, baik keseluruhan di Buthak, Bokong, maupun Panderman diminta untuk segera meninggalkan lokasi," kata Suwoko kepada wartawan, Selasa, 01 September 2026. (*/red)

Kapolresta Banyuwangi Sebut Bakal Miskinkan Residivis Narkoba yang Tak Tobat

By On September 02, 2026

Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan saat rilis ungkap kasus narkoba. 

BANYUWANGI, KabarXXI.Com - Polresta Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim), akan menerapkan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) terhadap residivis kasus narkoba yang kembali mengedarkan narkotika, terutama jika memiliki barang bukti dalam jumlah besar. 

Kapolresta Banyuwangi, Kombes Rofiq Ripto Himawan mengatakan, penerapan TPPU ditujukan kepada residivis yang dinilai tidak menunjukkan keinginan untuk memperbaiki diri. 

"Saya berjanji, tadi sudah saya perintahkan sama Pak Kasat Narkoba, beberapa titik yang memang ini residivis, barang buktinya banyak, dan dia tidak ada keinginan untuk melakukan perbaikan, akan saya berlakukan TPPU-nya," ujar Rofiq saat merilis hasil pengungkapan kasus narkoba di Mapolresta Banyuwangi, Selasa, 01 September 2026. 

Menurutnya, penerapan TPPU akan dilakukan dengan menelusuri aset yang diduga berkaitan dengan tindak pidana narkoba. 

"Pencucian uangnya akan saya lakukan itu. Akan saya miskinkan atas nama negara. Semua asetnya akan saya sita," ujarnya. 

Rofiq mengatakan, Polresta Banyuwangi akan melakukan pelacakan aset terhadap pelaku yang menjadi sasaran penerapan TPPU. 

Pernyataan tersebut disampaikan Rofiq saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai kasus narkoba yang menonjol dalam pengungkapan Operasi Tumpas Semeru. 

Salah satunya adalah kasus pasangan suami istri yang menjadi target operasi dengan barang bukti narkotika mencapai sekitar satu kilogram. 

"Kalau kemudian ini dianggap sebagai sebuah pekerjaan dan mata pencaharian, ini sudah, sudah, menurut saya gila," kata Rofiq. 

Ia menegaskan, proses hukum akan diterapkan tanpa pandang bulu, termasuk terhadap pihak lain apabila ditemukan keterlibatan dalam perkara narkoba tersebut. 

"Kalau ada oknum-oknum yang terlibat, akan saya proses secara objektif, profesional, dan proporsional," yakinnya. 

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah pengungkapan puluhan kasus narkoba dalam Operasi Tumpas Semeru yang berlangsung selama 12 hari. 

Dalam operasi tersebut, Polresta Banyuwangi mengungkap 43 Tempat Kejadian Perkara (TKP) dengan total 49 tersangka. 

Sebanyak 29 tersangka terjerat 24 laporan polisi terkait kasus sabu. Sementara 20 tersangka lainnya terjerat 19 laporan polisi terkait obat-obatan berbahaya atau obat daftar G. 

Dari operasi tersebut, polisi menyita 1,343 kilogram atau 1.343,67 gram sabu, 26,04 gram ekstasi, dan 8.316 butir obat berbahaya. 

Selain narkotika dan obat-obatan, polisi juga menyita 44 telepon seluler, uang tunai sekitar Rp 14,6 juta, 11 sepeda motor, satu sepeda listrik, serta 18 timbangan digital. (*/red)

293 Santri Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo Dirawat di RS Usai Keracunan MBG

By On September 02, 2026

Ratusan Santri Ponpes Manbaul Hikam, Sidoarjo yang keracunan usai santap MBG mendapat parawatan medis. 

SIDOARJO, KabarXXI.Com - Sebanyak 293 Santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim), mendapat perawatan di sejumlah Rumah Sakit (RS) setelah mengalami dugaan keracunan usai menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Data tersebut merupakan data sementara yang dihimpun Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo. Ratusan santri tersebut tersebar di delapan rumah sakit. 

"Ada 293 santri dirawat di delapan rumah sakit," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr Lakhsmie Herawati Yuwantina kepada wartawan, Selasa, 01 September 2026. 

Sementara itu, RSUD Notopuro Sidoarjo menjadi salah satu rumah sakit yang menerima pasien dari Ponpes Manbaul Hikam. 

Pantauan wartawan pada Selasa malam, 01 September 2026, area Poliklinik Rumah Sakit tampak dipadati pasien dan keluarga. 

Sejumlah keluarga terlihat mengecek data pasien, sementara lainnya menunggu dan menemani anggota keluarganya yang tengah mendapat perawatan. 

Di area Poliklinik, sejumlah pasien yang datang dari Ponpes Manbaul Hikam dikumpulkan untuk mendapatkan penanganan medis. Para pasien mendapat pertolongan pertama, termasuk pemasangan infus. 

Sedangkan, ambulans masih beberapa kali terlihat keluar dari area rumah sakit untuk mengevakuasi pasien. 

Lakhsmie mengatakan, dari total 293 santri yang dirawat, terdapat delapan pasien yang mengalami gejala berat. Mereka masih menjalani pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut oleh tim medis. 

"Ada delapan gejala berat, membutuhlan perawatan," ujarnya. 

Diketahui sebelumnya, ratusan santri Ponpes Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, mengalami keracunan usai diduga mengonsumsi makanan dari program MBG. 

Insiden tersebut diperkirakan terjadi usai para santri melangsungkan salat zuhur, kemudian saat waktu asar mengalami gejala, dan sekitar magrib banyak yang telah dilarikan ke sejumlah rumah sakit. 

Pantauan di lokasi, puluhan ambulans masih keluar-masuk dari ponpes dengan membawa santri yang mengalami gejala keracunan. 

Santri itu telah dibawa ke sejumlah rumah sakit dan puskesmas setempat. Saat ini area ponpes tampak masih dijaga ketat oleh personel TNI. (*/red)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *