Berita Terbaru

Pimpim Rakor Forkopimda, Bupati Serang Bahas Berbagai Isu Jelang Idul Adha

By On Mei 13, 2026

Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah saat memimpin Rakor Forkopimda Kabupaten Serang, di Pendopo Bupati, Selasa, 12 Mei 2026. 

SERANG, KabarXXI.Com - Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Serang, di Pendopo Bupati, Selasa, 12 Mei 2026. 

Rakor tersebut membahas berbagai isu menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi. 

“Hari ini adalah rapat ke-3 dengan seluruh Anggota Forkopimda di Kabupaten Serang, membahas isu strategis menjelang Iduladha. Pertama, menjelang Idul Adha 1447 Hijriah yang sebentar lagi, atau beberapa hari lagi akan kita laksanakan bersama,” ujar Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah kepada wartawan usai Rakor. 

Kemudian, kata Ratu Zakiyah, sapaan Ratu Rachmatuzakiyah, tentang stabilitas harga kebutuhan pokok menjelang Idul Adha yang juga kaitannya dengan ketahanan pangan. 

Pihaknya juga membahas progres Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan lainnya. 

“Jadi ada beberapa hal yang disampaikan. Secara umum, pertama mengenai ketertiban masyarakat juga sudah kami bahas. Kami juga meminta masukan-masukan dari berbagai unsur Forkopimda. Secara umum, ketertiban di wilayah Kabupaten Serang alhamdulillah aman,” ujarnya. 

Selanjutnya, kata dia, menjelang Idul Adha 1447 Hijriah, para lintas sektoral sudah memberikan masukan-masukan, pertama untuk pengamanan jalur lalu lintas di wilayah Kabupaten Serang. Hal ini guna mengantisipasi menjelang cuti bersama yang akan dilaksanakan pada 14-15-16-17 Mei 2026. 

“Saya juga meminta unsur Forkopimda, khususnya Satpol PP dan Dishub, untuk mengatur lalu lintas di wilayah Kabupaten Serang, karena akan banyak terjadi kemacetan khususnya di wilayah pariwisata,” katanya. 

Terkait dengan harga sembako, Ratu Zakiyah memastikan hingga saat ini masih stabil. 

"Harga sembako sebagian besar sebetulnya masih stabil. Tadi beras harganya masih stabil. Kemudian ada satu sampai dua komoditas di angkanya masih di atas Rp 50 ribu per kilogram, yaitu cabai keriting dan cabai rawit hijau, harganya agak tinggi. Kalau harga telur turun, kemudian daging stabil. Jadi secara keseluruhan harga masih normal,” terangnya. 

Di sisi lain, Ratu Zakiyah menyampaikan terima kasih kepada Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang sudah merealisasikan bantuan distribusi pangan. 

Sebelumnya, Kabupaten Serang mendapatkan 64 ribu Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Namun, setelah pihaknya berkoordinasi kepada Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan dan ditindaklanjuti oleh Bapanas untuk menambahkan distribusi atau penerima manfaat dari Kabupaten Serang. 

“Kami sampaikan, Januari, Februari, Maret kami mengalami bencana dan 830 hektare gagal panen, jadi butuh subsidi atau support dari pemerintah pusat. Alhamdulillah tahun ini tiga kali lipat, dari 64 ribu menjadi 190 ribu penerima manfaat. Terima kasih Pak Presiden, Menko Bidang Pangan, dan Bapanas atas pemberian distribusi tambahan bantuan bagi warga kami di Kabupaten Serang,” ucapnya. 

Turut hadir Wakil Bupati (Wabup) Serang Muhammad Najib Hamas, Sekretaris Daerah (Sekda) Zaldi Dhuhana, unsur Forkopimda, dan para Pejabat Eselon II di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang. (*/red)

Satpam di Surabaya Tewas Ditusuk Rekan Kerja Gegara Pinjol

By On Mei 13, 2026

Foto ilustrasi. 

SURABAYA, KabarXXI.Com - Seorang satpam perumahan di kawasan Jalan Sukomanunggal Jaya, Surabaya, Jawa Timur (Jatim), berinisial DM (48) tewas ditusuk, diduga dipicu persoalan pinjaman online (Pinjol). 

Diketahui, pelaku merupakan rekan kerja sesama satpam perumahan berinisial OA (26). 

Pelaku telah ditangkap anggota Tim Jatanras Polrestabes Surabaya di kamar kosnya di Kawasan Sememi, Benowo, pada Senin, 11 Mei 2026, sekitar pukul 17.00 WIB. 

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Edy Herwiyanto mengatakan, pembunuhan berawal dari perselisihan terkait pembayaran utang Pinjol yang digunakan bersama oleh korban dan pelaku. 

"Motif pembunuhan itu diawali dengan permasalahan Pinjol. Menurut pengakuannya, uang Pinjol itu digunakan berdua antara tersangka dan korban," kata Edy kepada wartawan di Mapolrestabes Surabaya, Selasa, 12 Mei 2026. 

Menurutnya, cekcok mengenai tanggung jawab pelunasan utang Pinjol memicu pembunuhan satpam tersebut. 

Perselisihan itu terjadi pada Minggu, 10 Mei 2026, sehari sebelum korban ditemukan meninggal dunia di sebuah rumah kosong dekat pos satpam tempat mereka bekerja. 

Dalam kondisi emosi, pelaku diduga menyerang korban menggunakan pisau dan menusuk beberapa bagian tubuh vital. 

"Ada ketersinggungan berkaitan mungkin masalah pertanggungjawaban dengan pembayaran Pinjol itu. Adanya percekcokan itulah akhirnya tersangka melakukan pembunuhan korban dengan cara menusuk leher dan dada. Sehingga mengakibatkan korban meninggal dunia,” tutur Edy. 

Akibat luka tusuk di bagian leher dan dada, korban mengalami pendarahan hebat hingga meninggal di lokasi kejadian. 

Sempat Keluhkan Akun Pinjol Dipinjam

Adik korban, Adi Deden Februadi (35) mengungkapkan bahwa kakaknya sempat bercerita kepada sang istri mengenai akun Pinjol miliknya yang dipakai oleh pelaku. 

"Jadi korban mengeluh akun Shopee pay later-nya dipinjam temannya itu. Ngomongnya istrinya itu beberapa bulan yang lalu," ujar Adi kepada wartawan di RS Bhayangkara Surabaya, Senin, 11 Mei 2026. 

Korban juga sempat meminta saran kepada adiknya terkait cara menonaktifkan akun Pinjol tersebut. 

"Cuma telepon saya kayak gitu aja sih. Cara untuk menonaktifkan (akun pinjol) itu. Menstop gitu ya,” ujarnya. 

Adi mengaku telah mengingatkan kakaknya agar berhati-hati apabila terdapat tunggakan pembayaran Pinjol. 

"Saya bilang juga, misalnya enggak mau bayar hati-hati loh," pungkasnya. (*/red)

Mahasiswi UNU Blitar Korban Pelecehan Seksual Tuntut Dosen Terduga Pelaku Dipecat

By On Mei 13, 2026

Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar. 

BLITAR, KabarXXI.Com - Sejumlah mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar mengaku menjadi korban pelecehan seksual. Pelaku diduga oknum salah satu dosen. 

Salah seseorang mahasiswi yang enggan disebut namanya mengaku menjadi salah satu korban dugaan pelecehan dari oknum dosen tersebut. 

Ia menyebut, mendapat perlakuan tidak menyenangkan saat di dalam kelas. 

"Iya sempat pernah dipegang-pegang, di dalam kelas. Awalnya biasa saja mungkin tidak sengaja, tapi kok terjadi beberapa kali," ujarnya kepada wartawan, Selasa, 12 Mei 2026. 

Menurutnya, oknum dosen tersebut beberapa kali melakukan dugaan pelecehan terhadap mahasiswi yang lain. 

Adapun pelecehan itu dilakukan secara verbal dan non-verbal. 

"Ya jelas bikin risih. Ada teman saya juga yang dicolek dagunya, pernah juga ngomong tidak pantas tentang teman saya ke saya," ucapnya. 

Sementara itu, Ketua PMII Komisariat UNU Blitar, Ahmad Kafiy mengatakan, pihaknya menerima laporan pendampingan korban dugaan pelecehan seksual tersebut. 

Menurutnya, ada sekitar lima mahasiswi yang meminta pendampingan. 

"Sementara ada lima orang yang lapor meminta pendampingan ke kami, tapi kalau kami menginvestigasi itu lebih dari 10 orang," ujarnya. 

Kafiy mengatakan, perlakuan tidak pantas itu tidak hanya terjadi di lingkungan kampus. 

Namun, kata dia, ada pula mahasiswi bimbingan oknum dosen tersebut yang menjadi korban dugaan pelecehan seksual. 

"Korbannya seluruh jenjang, bahkan ada modus yang bimbingan skripsi harus di rumah oknum dosen tersebut," ujarnya. 

Dia juga mengatakan, kasus dugaan pelecehan yang dilakukan oknum dosen itu sempat mencuat namun tidak ada tindaklanjut. 

Saat ini, kata dia, dugaan pelecehan seksual itu kembali muncul dengan adanya laporan dari korban. 

Mahasiswa meminta agar pihak universitas menindak oknum dosen tersebut. Termasuk memberikan sanksi tegas. Salah satunya yakni mengeluarkan oknum dosen itu. 

"Kami minta agar dosen ini tidak hanya dilarang untuk mengajar, tapi dikeluarkan dari kampus. Kami juga masih menunggu hasil keputusan dari pihak kampus," pungkasnya. (*/red)

KPK Dalami Aliran Uang Dugaan Korupsi Bupati Pekalongan Fadia Arafiq

By On Mei 13, 2026

Bupati Pekalongan nonaktif, Fadia Arafiq. 

JAKARTA, KabarXXI.Com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih mendalami dugaan penerimaan uang oleh Bupati Pekalongan nonaktif, Fadia Arafiq, dalam kasus dugaan korupsi pengadaan jasa outsourcing di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pekalongan. 

Pendalaman tersebut dilakukan melalui pemeriksaan seorang saksi, bernama Ryan Savero yang berprofesi sebagai wiraswasta, pada Senin, 11 Mei 2026. 

Juru Bicara (Jubir) KPK, Budi Prasetyo, mengatakan, penyidik menggali informasi terkait dugaan aliran dana yang diterima tersangka FAR. 

“Penyidik mendalami pengetahuan saksi terkait adanya dugaan penerimaan uang oleh tersangka FAR,” kata Budi kepada wartawan, Selasa, 12 Mei 2026. 

Namun demikian, KPK belum membeberkan secara rinci terkait bentuk maupun nominal penerimaan uang tersebut. Penyidik masih menelusuri tujuan dan latar belakang pemberian dana itu. 

“Penyidik masih akan menelusuri maksud dan tujuan dari aliran uang tersebut,” ujarnya. 

Diketahui sebelumnya, KPK telah menetapkan Fadia Arafiq sebagai tersangka usai terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Semarang pada Selasa, 03 Maret 2026. 

Dalam OTT tersebut, sebanyak 14 orang diamankan dari wilayah Semarang dan Pekalongan. 

Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu mengatakan, FAR langsung ditahan setelah ditetapkan sebagai tersangka. 

"KPK selanjutnya melakukan penahanan terhadap saudari FAR,” kata Asep kepada wartawan saat Konferensi Pers di Gedung Merah Putih KPK, Rabu, 04 Maret 2026. 

Dalam kasus itu, FAR disangkakan melanggar Pasal 12 huruf i dan Pasal 12 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, juncto Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP. (*/red)

Delapan Terdakwa Korupsi Minyak Mentah Divonis Empat Hingga Enam Tahun Penjara

By On Mei 13, 2026

Sidang kasus korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang pada Pertamina. 

JAKARTA, KabarXXI.Com - Sebanyak delapan terdakwa kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah divonis empat hingga enam tahun penjara. 

Hakim menyatakan para terdakwa bersalah melakukan korupsi dalam kasus tersebut. 

Sidang vonis digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026. Para terdakwa juga dijatuhi hukuman membayar denda Rp 1 miliar. 

"Menyatakan terdakwa telah terbukti meyakinkan bersalah dalam melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama," kata Ketua Majelis Hakim, Asek Nurhadi saat membacakan amar putusan. 

Berikut vonis lengkap delapan terdakwa dalam perkara ini: 

1. Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga (PPN) periode 2021-2023 Alfian Nasution divonis enam tahun penjara, denda Rp 1 miliar subsider 150 hari pidana kurungan. 

2. Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina periode 2012-2014 Hanung Budya Yuktyanta, divonis enam tahun penjara, denda Rp 1 miliar subsider 150 hari pidana kurungan. 

3. Business Development Manager Trafigura Pte Ltd periode 2019-2021 Martin Haendra Nata, divonis lima tahun penjara, denda Rp 1 miliar subsider 150 hari pidana kurungan. 

4. Toto Nugroho selaku Senior Vice President (SVP) Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina periode 2017-2018, divonis lima tahun penjara, denda Rp 1 miliar subsider 150 hari pidana kurungan. 

5. Dwi Sudarsono selaku VP Crude, Product Trading, and Commercial (CPTC) periode 2019-2020, divonis empat tahun penjara, denda Rp 1 miliar subsider 150 hari pidana kurungan. 

6. Hasto Wibowo selaku Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga pada Pertamina Patra Niaga periode 2020-2021, divonis lima tahun penjara, denda Rp 1 miliar subsider 150 hari pidana kurungan. 

7. Arief Sukmara selaku Direktur Gas, Petrokimia, dan Bisnis Baru PT Pertamina International Shipping (PIS) periode 2024-2025, divonis enam tahun penjara, denda Rp 1 miliar subsider 150 hari pidana kurungan. 

8. Indra Putra selaku Business Development Manager PT Mahameru Kencana Abadi, divonis empat tahun penjara, denda Rp 1 miliar subsider 150 hari pidana kurungan. 

(*/red)

Inspektorat Lebak Evaluasi Pertanggungjawaban APBDes 2025 di Kecamatan Panggarangan

By On Mei 13, 2026

Para peserta saat mengikuti pelaksanaan Evaluasi Pertanggunjawaban APBDes tahun 2025, di aula kantor Kecamatan Panggarangan. 

LEBAK, KabarXXI.Com - Inspektorat Kabupaten Lebak menggelar evaluasi Pertanggungjawaban Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Tahun Anggaran (TA) 2025. 

Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Kantor Kecamatan Panggarangan, Kabupaten Lebak, Banten, pada Selasa, 12 Mei 2026. 

Hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua Tim Inspektorat Kabupaten Lebak, Lukman Sujana, didampingi anggota tim Hendri Suryono dan Nani Nurfaini. 

Turut mendampingi Camat Panggarangan Hendi Suhendi, Sekmat Panggarangan Aang Kurnia, serta seluruh perangkat desa se-Kecamatan Panggarangan yang terdiri dari Kepala Desa, Sekretaris Desa, Kaur Ekbang, Kaur Keuangan, hingga Kasi Pemerintahan. 

Dalam sambutannya, Ketua Tim Evaluasi Inspektorat Lebak, Lukman Sujana menjelaskan bahwa evaluasi ini dilakukan secara serentak dengan membagi tim ke dalam dua wilayah kerja. 

"Tim kami bagi menjadi dua; satu tim di Kecamatan Panggarangan dan satu tim lainnya saat ini tengah bertugas di Kecamatan Bayah. Kami harap kehadiran kami tidak membuat suasana tegang. Santai saja, karena kalau tegang, justru menunjukkan ada sesuatu yang kurang tepat," seloroh Lukman mencairkan suasana. 

Lukman memaparkan bahwa proses evaluasi akan berlangsung selama dua hari untuk meninjau secara mendalam kepatuhan administrasi seluruh desa di wilayah tersebut. 

Ketua Tim Evaluasi Inspektorat Lebak, Lukman Sujana didampingi Canat Panggarangan Hendi Suhendi, saat sambutan pelaksanaan Evaluasi Pertangungjawaban APBDes Tahun 2025, di aula Kantor Kecamatan Panggarangan. 

Fokus utama kegiatan ini adalah memastikan tata kelola keuangan desa berjalan sesuai dengan regulasi yang berlaku. 

"Tujuannya adalah melihat sejauh mana kepatuhan Bapak dan Ibu perangkat desa dalam pengelolaan keuangan agar tetap akuntabel dan sejalan dengan aturan," jelasnya. 

Selain pemeriksaan APBDes reguler, Inspektorat juga memberikan perhatian khusus pada penggunaan Dana Bantuan Provinsi (Banprov). 

Salah satu poin krusial yang disoroti adalah program beasiswa sarjana desa bagi masyarakat kurang mampu. 

Lukman menegaskan, jika program tersebut tidak terealisasi, maka anggaran wajib dikembalikan ke kas negara. 

Ia juga mengingatkan agar desa segera merapikan laporan pertanggungjawaban terkait dana Ketahanan Pangan (Ketapang) yang dikelola oleh BUMDes, termasuk pemenuhan kewajiban pajaknya. 

"Kami meminta setiap desa mempersiapkan laporan dana Ketapang dengan jelas, termasuk bukti setor pajak-pajaknya agar tidak menjadi kendala di kemudian hari," tutup Lukman. (Cup)

Polisi Pastikan Bakal Bongkar Warung Diduga Sediakan Hiburan dan Miras di Kawasan Puspemkab Tangerang

By On Mei 13, 2026

Sejumlah warga Kelurahan Kadu Agung, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, melakukan aksi sweeping warung remang-remang yang berada di Puspemkab Tangerang, Selasa malam, 12 Mei 2026. 

TANGERANG, KabarXXI.Com - Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah memastikan akan membongkar warung atau kafe yang diduga menyediakan layanan hiburan serta menjual minuman keras (miras) di Kawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten (Puspemkab) Tangerang. 

Hal itu disampaikan Indra Waspada di hadapan ratusan warga yang secara spontan mendatangi lokasi warung atau kafe tersebut pada Selasa malam, 12 Mei 2026. 

Warga mengaku resah terhadap keberadaan tempat tersebut karena diduga menjadi lokasi aktivitas maksiat dan disinyalir tidak memiliki izin. 

Menanggapi hal itu, Indra Waspada menegaskan, pihaknya berada di pihak masyarakat. 

Dia juga akan segera berkoordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Tangerang guna menindaklanjuti aspirasi warga. 

"Malam ini kita akan police line, besok kita bongkar," ujar Indra Waspada. 

Indra Waspada juga mengatakan, pihaknya sudah berkomunikasi dengan Satpol PP yang memiliki kewenangan dalam penertiban. 

Dia juga mengimbau masyarakat agar tetap menjaga situasi kamtibmas dan tidak melakukan tindakan anarkis dalam menyampaikan aspirasi. 

Indra Waspada menegaskan, pihak Kepolisian akan terus merespons setiap keluhan masyarakat. Hal itu demi menjaga keamanan, ketertiban, dan kenyamanan lingkungan di wilayah Kabupaten Tangerang. (Reno)

Bikin Resah, Warga Kadu Agung Sweeping Warung Remang-remang di Area Puspemkab Tangerang

By On Mei 13, 2026

Sejumlah warga Kelurahan Kadu Agung, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, melakukan aksi sweeping warung rem ang-remang yang berada di Puspemkab Tangerang, Selasa malam, 12 Mei 2026. 

TANGERANG, KabarXXI.Com - Sejumlah warga Kelurahan Kadu Agung, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, melakukan aksi sweeping warung rem ang-remang yang berada di Pusat Pemerintahan Kabupaten (Puspemkab) Tangerang, Selasa malam, 12 Mei 2026. 

‎Informasi yang didapat dari warga setempat, aksi yang dilakukan sekira pukul 22.11 Wib itu karena warga sudah resah dengan keberadaan sejumlah warung remang-remang tersebut. 

‎"Sweeping masih berlangsung,sampai malam ini. Kerumunan massa tampak menuju salah satu warung remang-remang Sopo Sanggar," ujar salah satu warga Tigaraksa yang enggan disebutkan namanya. 

‎Sementara itu, Penggiat Pemerhati Kebijakan Publik, Hendra Primitif mengapresiasi langkah cepat dan kepedulian warga masyarakat Kampung Bugel, Kelurahan Kaduagung, Tigaraksa, atas dampak dari menjamurnya warung remang-remang yang sudah berlangsung lama dan terkesan dibiarkan oleh pemangku kebijakan di wilayah tersebut. 

‎Menurut Hendra, sikap warga tersebut merupakan bentuk kepedulian sosial demi menjaga kenyamanan, ketertiban, dan marwah kawasan Pusat Pemerintahan sebagai simbol pelayanan publik dan pusat pemerintahan daerah. 

‎“Langkah warga patut diapresiasi karena memiliki kepedulian terhadap ketertiban lingkungan. Jangan sampai ada pihak-pihak yang merasa memiliki aturan sendiri dan mengabaikan ketentuan yang berlaku di wilayah pusat pemerintahan,” tegas. 

‎Ia juga meminta aparat terkait serta OPD yang memiliki kewenangan untuk lebih tegas dalam melakukan pengawasan dan penertiban, agar tidak muncul kesan pembiaran terhadap aktivitas yang berpotensi menimbulkan gangguan ketertiban umum di tengah masyarakat. 

‎Hendra menambahkan, aturan daerah harus ditegakkan secara adil tanpa pandang bulu demi menjaga wibawa pemerintah daerah dan kenyamanan masyarakat sekitar. 

‎“Kalau masyarakat saja peduli terhadap ketertiban umum, maka instansi terkait juga harus hadir dan membuktikan ketegasannya. Jangan sampai masyarakat bertanya, yang punya aturan sendiri sebenarnya ke mana," pungkasnya. 

‎Sampai berita ini ditulis, aksi sweeping masih berlangsung dan kerumunan massa semakin bertambah banyak. (Reno)

Maraknya Pinjol dan Peran Lembaga Keuangan Syariah

By On Mei 12, 2026

Foto ilustrasi. 

Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif 

Indonesia sedang menghadapi ironi besar dalam sektor keuangan. Di satu sisi, inklusi keuangan terus meningkat. Masyarakat semakin mudah mengakses layanan keuangan digital hanya lewat genggaman tangan. 

Namun di sisi lain, kemudahan tersebut justru melahirkan ancaman baru, yaitu ledakan utang rumah tangga berbasis pinjaman daring (atau biasa masyarakat menyebutnya sebagai pinjol).

Fenomena ini berkembang sangat cepat. Pinjol bukan lagi sekadar alternatif pembiayaan darurat, tetapi telah berubah menjadi "napas tambahan" bagi jutaan rumah tangga yang mengalami tekanan ekonomi. 

Ketika gaji tidak cukup hingga akhir bulan, ketika biaya sekolah anak meningkat, ketika harga kebutuhan pokok naik lebih cepat dibanding pendapatan, pinjol hadir menawarkan solusi instan. 

Tidak banyak persyaratan untuk memperoleh pinjaman. Masyarakat hanya cukup mengunggah KTP, verifikasi wajah, dan dalam hitungan menit dana bisa cair. 

Namun, seperti banyak solusi instan lainnya, kemudahan itu menyimpan jebakan yang perlahan menggerus ketahanan ekonomi keluarga. 

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan outstanding pembiayaan pinjol mencapai sekitar Rp 84,66 triliun pada Juli 2025 atau tumbuh lebih dari 22 persen secara tahunan. 

Bahkan sebelumnya, outstanding pinjol sudah menembus Rp80 triliun pada awal 2025. 

Angka tersebut bukan sekadar statistik industri keuangan digital. Di baliknya ada jutaan rumah tangga yang sedang bertahan hidup dengan utang jangka pendek. 

Lebih mengkhawatirkan lagi, fenomena ini kini tidak hanya menyasar masyarakat miskin. Kelas menengah pun mulai terjebak. Banyak pekerja formal dengan penghasilan tetap ternyata hidup dalam kondisi arus kas yang rapuh. 

Gaji datang hanya lewat. Sebagian besar habis membayar cicilan, kebutuhan konsumsi, dan biaya hidup yang terus meningkat. Akibatnya, ruang fiskal rumah tangga semakin sempit. 

Ketika terjadi kebutuhan mendadak seperti anak sakit, motor rusak, biaya sekolah, atau tagihan kontrakan, maka pinjol menjadi jalan tercepat. 

Persoalannya, solusi cepat itu sering berubah menjadi lingkaran utang tanpa akhir. Di tengah situasi ini, pertanyaan besar mulai muncul, yaitu di mana peran lembaga keuangan syariah? 

Mengapa lembaga keuangan syariah belum tampil sebagai solusi utama bagi masyarakat yang terjebak krisis finansial rumah tangga? 

Krisis rumah tangga di Indonesia hari ini tidak selalu disebabkan oleh rendahnya pendapatan. 

Masalah utamanya justru terletak pada ketidakseimbangan antara pertumbuhan penghasilan dan laju kenaikan pengeluaran. 

Harga kebutuhan pokok meningkat. Biaya pendidikan naik. Tarif transportasi bertambah. Gaya hidup digital juga mendorong konsumsi yang semakin agresif. 

Namun, di saat bersamaan, pertumbuhan pendapatan masyarakat tidak bergerak secepat itu. Akibatnya, banyak rumah tangga hidup dalam kondisi "besar pasak daripada tiang". 

Fenomena ini terlihat dari meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap pembiayaan konsumtif digital seperti pinjol dan paylater. 

Bahkan dalam berbagai diskusi publik digital, banyak masyarakat mengaku harus meminjam di satu aplikasi untuk membayar aplikasi lain. 

Ada yang awalnya hanya meminjam Rp 1 juta untuk kebutuhan mendesak, tetapi akhirnya memiliki utang di lima hingga sepuluh aplikasi sekaligus. Kondisi inilah yang disebut jebakan utang digital. 

Masalahnya semakin kompleks karena sebagian masyarakat tidak benar-benar memahami risiko finansial dari pinjaman tersebut. 

Mereka hanya fokus pada kemudahan pencairan dana, tanpa menghitung kemampuan membayar di masa depan. 

Padahal bunga, biaya layanan, dan denda keterlambatan dapat membuat total pembayaran membengkak jauh lebih besar dibanding pokok pinjaman. 

Lebih dari itu, pinjol juga mengubah perilaku ekonomi masyarakat. Budaya menabung perlahan tergeser menjadi budaya konsumsi instan berbasis utang. 

Segala kebutuhan dianggap bisa diselesaikan dengan pinjaman cepat. Dalam jangka panjang, ini sangat berbahaya bagi ketahanan ekonomi nasional. 

Ironisnya, fenomena ledakan pinjol justru terjadi ketika tingkat inklusi keuangan Indonesia meningkat secara signifikan. 

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan indeks inklusi keuangan nasional mencapai 80,51 persen, sementara indeks literasi keuangan berada di level 66,46 persen. 

Hal ini berarti masyarakat semakin banyak menggunakan layanan keuangan, tetapi belum sepenuhnya memahami cara mengelola risiko dan kesehatan finansial. 

Kesenjangan antara inklusi dan literasi inilah yang menjadi lahan subur bagi pertumbuhan pinjol. 

Masyarakat mudah mengakses layanan keuangan digital, tetapi tidak semuanya memahami implikasi bunga, tenor, penalti, maupun dampak psikologis utang berkepanjangan. 

Fakta yang juga menarik, data SNLIK 2025 juga menunjukkan bahwa literasi keuangan syariah baru mencapai 43,42 persen dan inklusi keuangan syariah hanya 13,41 persen. 

Angka ini menyimpan dua makna sekaligus. Pertama, sektor keuangan syariah masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar. 

Kedua, lembaga keuangan syariah belum benar-benar hadir dan dekat dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari. 

Padahal Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. 

Pertanyaan penting yang perlu dijawab secara jujur adalah mengapa masyarakat lebih tertarik menggunakan pinjol dibandingkan dengan lembaga keuangan formal, termasuk lembaga keuangan syariah? 

Jawabannya sederhana, yaitu karena pinjol memahami kebutuhan masyarakat modern. 

Pinjol menawarkan kecepatan. Mereka memahami bahwa masyarakat saat ini hidup dalam ritme serba instan. 

Orang tidak ingin menunggu berhari-hari hanya untuk mendapatkan pinjaman kecil. 

Pinjol juga menawarkan kemudahan akses. Tidak perlu agunan, tidak perlu proses rumit, tidak perlu datang ke kantor. 

Sementara sebagian lembaga keuangan formal masih terjebak dalam birokrasi panjang. 

Banyak masyarakat kecil merasa takut atau minder datang ke bank. Mereka khawatir ditolak karena tidak memiliki slip gaji tetap atau jaminan aset. Sebaliknya, aplikasi pinjol terasa lebih "ramah" secara psikologis. 

Fenomena ini memperlihatkan bahwa masalah utama bukan sekadar kebutuhan pembiayaan, tetapi soal aksesibilitas dan pengalaman layanan. 

Lembaga keuangan syariah sebenarnya memiliki peluang besar untuk masuk ke ruang ini. 

Sayangnya, banyak yang masih bergerak lambat dalam transformasi digital dan inovasi layanan. 

Akibatnya, pasar pembiayaan mikro dan ultra mikro justru dikuasai fintech konvensional. 

Secara filosofis, lembaga keuangan syariah lahir untuk menghadirkan sistem ekonomi yang lebih adil, beretika, dan berpihak pada masyarakat. 

Spirit dasarnya adalah kemaslahatan. Namun, dalam praktiknya, sebagian lembaga keuangan syariah justru terlihat terlalu formal dan elitis.

Produk-produk yang ditawarkan sering kali lebih fokus pada segmen menengah atas. Pembiayaan lebih banyak mengalir ke sektor aman dan konsumtif. 

Sementara masyarakat kecil yang membutuhkan akses cepat dan fleksibel masih kesulitan menjangkau layanan tersebut. Akibatnya terjadi kekosongan pasar. 

Ketika ada kebutuhan yang tidak dipenuhi, maka akan muncul pemain lain yang mengisinya. Pinjol berhasil masuk ke ruang kosong itu. 

Padahal lembaga keuangan syariah memiliki modal sosial yang sangat besar. 

Prinsip keadilan, larangan riba, semangat tolong-menolong, serta keberadaan instrumen sosial Islam seperti zakat dan wakaf seharusnya membuat mereka lebih relevan dalam membantu masyarakat menghadapi tekanan ekonomi. Namun potensi besar itu belum sepenuhnya dimanfaatkan. 

Fenomena pinjol sering dipandang hanya sebagai persoalan kredit macet atau gagal bayar. Padahal dampaknya jauh lebih luas. 

Krisis finansial rumah tangga dapat memicu berbagai persoalan sosial. Konflik keluarga meningkat akibat tekanan ekonomi. 

Produktivitas kerja menurun karena stres finansial. Kesehatan mental terganggu. Bahkan dalam beberapa kasus, tekanan utang memicu tindakan kriminal maupun bunuh diri. Hal ini berarti masalah ini sudah bergerak melampaui sektor keuangan. 

Fenomena ini juga berbahaya bagi perekonomian nasional. Mengapa? Karena konsumsi rumah tangga merupakan tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

Ketika rumah tangga semakin rapuh secara finansial, daya beli masyarakat akan melemah. 

Dalam jangka panjang, masyarakat yang terus terjebak utang konsumtif juga kehilangan kemampuan membangun aset produktif. 

Pendapatan habis untuk membayar cicilan. Tabungan menurun. Investasi pendidikan anak terganggu. Akibatnya, lahir generasi yang secara ekonomi semakin rentan. 

Fenomena pinjol seharusnya menjadi alarm bagi lembaga keuangan syariah. Jika tidak segera bertransformasi, mereka akan kehilangan relevansi sosial. Terdapat beberapa langkah strategi yang perlu dilakukan. 

Pertama, membangun pembiayaan digital syariah yang cepat dan sederhana. Masyarakat membutuhkan layanan keuangan yang mudah diakses. 

Karena itu, lembaga keuangan syariah harus berani membangun ekosistem digital yang kompetitif. 

Proses pengajuan pembiayaan harus lebih sederhana, cepat, dan fleksibel tanpa menghilangkan prinsip kehati-hatian. 

Jika fintech konvensional bisa mencairkan dana dalam hitungan menit, maka lembaga keuangan syariah juga harus mampu menghadirkan layanan yang efisien. 

Transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. 

Kedua, memperkuat pembiayaan produktif mikro. Banyak masyarakat menggunakan pinjol bukan untuk konsumsi mewah, tetapi untuk mempertahankan usaha kecil mereka. 

Pedagang warung, penjual makanan, pengemudi ojek online, hingga pelaku UMKM sering kali membutuhkan modal cepat untuk menjaga arus kas usaha. Di sinilah lembaga keuangan syariah harus hadir. 

Pembiayaan berbasis musyarakah, mudharabah, maupun murabahah mikro perlu diperluas dengan pendekatan yang lebih inklusif. 

Jangan sampai masyarakat kecil justru lebih mudah mendapat pinjaman dari aplikasi dibandingkan dengan lembaga keuangan syariah. 

Ketiga, mengintegrasikan keuangan sosial Islam. Indonesia memiliki potensi zakat, infak, sedekah, dan wakaf yang sangat besar. 

Sayangnya, integrasi antara instrumen sosial Islam dan lembaga keuangan formal masih belum optimal. 

Padahal dana sosial Islam dapat menjadi bantalan penting bagi kelompok rentan yang terjebak krisis ekonomi. 

Misalnya, dana zakat produktif bisa digunakan untuk membantu keluarga miskin keluar dari jerat utang konsumtif. 

Wakaf produktif dapat mendukung pembiayaan UMKM berbasis komunitas. 

Jika dikelola serius, ekosistem ekonomi syariah bisa menjadi solusi nyata bagi krisis finansial rumah tangga. 

Keempat, memperkuat literasi keuangan keluarga. Masalah pinjol tidak akan selesai hanya dengan regulasi. 

Akar persoalannya juga terletak pada rendahnya literasi keuangan masyarakat. 

Karena itu, lembaga keuangan syariah harus lebih aktif membangun edukasi finansial berbasis komunitas. 

Edukasi mengenai pengelolaan utang, prioritas kebutuhan, dana darurat, hingga investasi produktif harus diperluas. 

Masjid, pesantren, sekolah, kampus, dan komunitas masyarakat dapat menjadi pusat edukasi ekonomi keluarga. 

Kelima, mengubah orientasi bisnis. Lembaga keuangan syariah tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan aset dan laba. 

Mereka harus kembali pada tujuan utama ekonomi syariah, yaitu menciptakan keadilan dan kemaslahatan sosial. 

Ukuran keberhasilan tidak boleh hanya berupa pertumbuhan pembiayaan atau laba tahunan. 

Yang lebih penting adalah seberapa besar dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. 

Berapa banyak UMKM yang berhasil naik kelas? Berapa banyak keluarga yang berhasil keluar dari jebakan utang? 

Berapa banyak masyarakat rentan yang mendapat akses pembiayaan sehat? 

Inilah ukuran keberhasilan yang seharusnya diperjuangkan. 

Di tengah meningkatnya keresahan masyarakat terhadap pinjol dan utang digital, sebenarnya ada peluang besar bagi kebangkitan ekonomi syariah. 

Masyarakat mulai mencari sistem keuangan yang lebih adil, lebih manusiawi, dan tidak eksploitatif. Namun peluang itu tidak akan datang otomatis. 

Lembaga keuangan syariah harus bergerak lebih agresif. Mereka harus keluar dari zona nyaman dan lebih dekat dengan realitas masyarakat akar rumput. 

Jika tidak, maka label "syariah" hanya akan menjadi identitas administratif tanpa dampak sosial yang nyata. 

Padahal semangat ekonomi syariah sejatinya bukan sekadar soal akad dan terminologi Arab. 

Spirit utamanya adalah menghadirkan sistem ekonomi yang melindungi manusia dari eksploitasi dan ketidakadilan. 

Fenomena pinjol hari ini ibarat gunung es. Fenomena yang terlihat mungkin hanya angka outstanding pembiayaan dan kredit macet. 

Namun di bawah permukaan, ada tekanan sosial yang jauh lebih besar, seperti masyarakat yang mulai kehilangan tabungan, ada yang hidup dari utang ke utang. 

Kemudian ada pula anak muda yang tumbuh dalam budaya konsumsi instan, pelaku UMKM yang bertahan hidup dengan bunga tinggi, serta ada rumah tangga yang perlahan kehilangan masa depannya karena jebakan finansial digital. 

Jika kondisi ini terus berlangsung, Indonesia bukan hanya menghadapi ancaman ekonomi, tetapi juga ancaman sosial jangka panjang. 

Karena itu, fenomena pinjol tidak cukup dijawab dengan penertiban aplikasi ilegal atau pembatasan bunga semata. 

Hal yang jauh lebih penting adalah membangun sistem keuangan yang benar-benar berpihak pada keberlanjutan ekonomi keluarga. 

Di titik inilah lembaga keuangan syariah seharusnya mengambil peran besar. 

Bukan sekadar menjadi alternatif lembaga keuangan, tetapi menjadi benteng perlindungan ekonomi masyarakat. 

Sebab pada akhirnya, kekuatan ekonomi suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh tingginya pertumbuhan ekonomi atau besarnya investasi. 

Kekuatan ekonomi bangsa juga ditentukan oleh seberapa kokoh rumah tangga menopang kehidupannya. 

Penulis adalah Guru Besar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah

Sumber: cnbcindonesia.com

Abuya Muhtadi Pimpin Istighosah Silaturahmi Akbar dan Pelantikan Serentak DPC KESTI TTKKDH se-Kabupaten Pandeglang

By On Mei 11, 2026

Silaturahmi Akbar dan Pelantikan Serentak Dewan Pimpinan Cabang (DPC) KESTI TTKKDH se-Kabupaten Pandeglang, masa bakti 2026–2029, yang digelar di Pendopo Bupati Pandeglang, Senin, 11 Mei 2026. 

PANDEGLANG, KabarXXI.ComSuasana khidmat dan penuh semangat kebersamaan mewarnai kegiatan Silaturahmi Akbar dan Pelantikan Serentak Dewan Pimpinan Cabang (DPC) KESTI TTKKDH se-Kabupaten Pandeglang, masa bakti 2026–2029, yang digelar di Pendopo Bupati Pandeglang, Senin, 11 Mei 2026. 

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 25 DPC KESTI TTKKDH tingkat kecamatan se-Kabupaten Pandeglang resmi dilantik secara serentak, dengan jumlah sekitar 600 pengurus DPC yang dikukuhkan untuk masa bakti 2026–2029. 

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Pandeglang, Iing Andri Supriadi menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang terhadap keberadaan KESTI TTKKDH sebagai organisasi budaya yang berperan penting dalam melestarikan seni bela diri tradisional serta memperkuat nilai persatuan dan kebersamaan di tengah masyarakat. 

Sementara itu, Surya Wijaya, selaku Ketua DPD KESTI TTKKDH Kabupaten Pandeglang menyampaikan rasa syukur atas suksesnya pelaksanaan Silaturahmi Akbar dan pelantikan serentak tersebut. 

Ia berharap seluruh pengurus yang baru dilantik dapat menjalankan amanah organisasi dengan penuh tanggung jawab dan menjaga soliditas antar sesama anggota. 

Turut memberikan sambutan, H. Maman yang menegaskan pentingnya menjaga marwah organisasi, memperkuat kekompakan, serta terus melestarikan nilai-nilai luhur budaya Tjimande sebagai warisan leluhur bangsa. 

Sebagai penutup acara, seluruh peserta mengikuti Istighosah dan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Abuya Muhtadi. 

Suasana berlangsung penuh kekhusyukan, menjadi momentum spiritual untuk memohon keberkahan, keselamatan, dan kesuksesan bagi seluruh pengurus yang telah dilantik serta kemajuan organisasi KESTI TTKKDH ke depan. 

Acara berlangsung lancar, tertib, dan penuh kekeluargaan, dihadiri para tokoh ulama, tokoh masyarakat, jajaran pengurus pusat dan daerah, serta ratusan anggota KESTI TTKKDH dari berbagai kecamatan di Kabupaten Pandeglang. (Asep/red)

Ganggu Pengguna Jalan, Petugas Diminta Tertibkan Truk yang Parkir Liar di Bahu Jalan Malingping-Bayah

By On Mei 11, 2026

Sejumlah truk bermuatan berat yang parkir liar di bahu jalan Nasional Malingping-Bayah. 

LEBAK, KabarXXI.Com - Antrean truk bermuatan berat yang parkir liar di bahu hingga badan jalan Nasional Malingping-Bayah mulai meresahkan masyarakat. 

Keberadaan armada besar tersebut dinilai menjadi ancaman serius bagi keselamatan lalu lintas, khususnya di kawasan wisata Pantai Cantigi, Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, Banten. 

Pantauan awak media di lapangan, sejumlah truk berdimensi besar ini kerap berhenti dalam durasi lama hingga memakan sebagian lajur utama. 

Kondisi tersebut memicu penyempitan jalan, sehingga memaksa kendaraan lain dari arah berlawanan untuk mengambil risiko masuk ke jalur lawan saat melintas. 

Jumali (33), seorang pengguna jalan yang rutin melintasi jalur tersebut, mengungkapkan kekhawatirannya akan potensi kecelakaan fatal akibat terbatasnya ruang gerak dan jarak pandang. 

"Sangat mengganggu dan berbahaya, apalagi kalau malam hari. Truk-truk itu parkir di badan jalan sehingga menghalangi pandangan (blind spot). Pengendara harus ekstra waspada karena jalan menjadi sangat sempit," ujar Jumali, Senin, 11 Mei 2026. 

Selain faktor keselamatan, warga menyayangkan adanya pembiaran parkir liar di area yang merupakan akses utama logistik dan pariwisata di Lebak Selatan ini. 

Warga khawatir jika tidak segera ditindak, lokasi tersebut akan memicu kecelakaan lalu lintas yang menelan korban jiwa. 

Merespons kondisi ini, masyarakat mendesak pihak terkait, khususnya Dinas Perhubungan dan aparat kepolisian setempat, untuk segera melakukan penertiban di lokasi. 

Warga berharap adanya tindakan tegas, baik berupa teguran maupun sanksi, bagi para sopir truk yang masih nekat menggunakan badan jalan sebagai lahan parkir pribadi. (Cup/Red)

NTT DATA Luncurkan Layanan AI untuk Pengelolaan Infrastruktur Multivendor Perusahaan

By On Mei 11, 2026

NTT DATA memperkenalkan Software Defined Infrastructure Services (SDI) Agent — sebuah inovasi percakapan berbasis agentic yang terintegrasi dalam layanan SDI mereka. 

JAKARTA, KabarXXI.Com - NTT DATA, pemimpin global di bidang kecerdasan buatan (AI), bisnis digital, dan layanan teknologi, mengumumkan peluncuran NTT DATA Software Defined Infrastructure (SDI) Services Agent, sebuah layanan agentic berbasis interaksi percakapan untuk infrastruktur perusahaan. 

Terintegrasi dalam Layanan SDI NTT DATA, sistem multi-agent ini mengubah cara perusahaan mengoperasikan, mengoptimalkan, dan mengelola infrastruktur AI dalam skala besar. 

Agen SDI Services berperan sebagai orkestrator yang secara selektif mengaktifkan agen-agen yang sesuai di balik layar. 

Sistem multi-agent ini secara terus-menerus memantau, menganalisis, dan bertindak di berbagai lingkungan – mulai dari jaringan, pusat data hybrid, keamanan siber, hingga digital workplace – sehingga menghadirkan kecerdasan prediktif, penyelesaian yang lebih cepat, serta hasil yang terukur dalam hal ketersediaan, pemanfaatan, dan nilai bisnis. 

Inovasi ini menandai evolusi signifikan dari layanan SDI milik NTT DATA. Berperan sebagai digital twin untuk fungsi operasional TI yang sangat penting, agen Layanan SDI secara fundamental mentransformasi cara perusahaan mengelola infrastruktur dengan memanfaatkan agen AI. 

Untuk pertama kalinya, perusahaan dapat berinteraksi dengan lingkungan infrastruktur multivendor mereka melalui perintah berbasis bahasa alami (natural language prompts), serta memperoleh wawasan berbasis profil pengguna untuk mengoperasikan infrastruktur dengan percaya diri di Era AI. 

"Layanan infrastruktur tradisional semakin tidak sesuai dengan tuntutan perusahaan yang didorong oleh kecerdasan buatan," ujar Chris Barnard, Vice President, IDC. 

"NTT DATA membedakan dirinya melalui pengalaman layanan multivendor berbasis agentic yang mengutamakan inovasi. Pendekatan yang mengutamakan kecerdasan buatan ini memungkinkan para pemimpin di bidang infrastruktur untuk keluar dari model pemeliharaan tradisional dan berfokus pada hasil dalam skala besar." 

Asisten AI dari Original Equipment Manufacturer (OEM) umumnya terbatas pada ekosistem satu vendor saja, namun NTT DATA SDI Services Agent menghadirkan kecerdasan berstandar perusahaan di lingkungan infrastruktur multivendor yang kompleks. 

Agen ini juga menggabungkan wawasan berkelanjutan, yang membantu organisasi memahami dan mengoptimalkan dampak lingkungan dari aset infrastruktur mereka. 

Laporan AI Global NTT DATA: Panduan bagi Para Pemimpin AI menemukan bahwa para pemimpin AI lebih banyak berinvestasi dalam membangun ulang aplikasi inti mereka dengan kemampuan AI yang terintegrasi, daripada hanya mengandalkan fitur tambahan yang bersifat permukaan (34,5% dari responden). 

"Seiring organisasi mempercepat adopsi AI, fondasi infrastruktur yang aman dan berstandar perusahaan, yang dipadukan dengan pengalaman layanan agentic berbasis percakapan, menjadi pembeda strategis bagi bisnis," ujar Dilip Kumar, Global Head, Infrastructure Solutions, NTT DATA, Inc. 

"Layanan SDI berbasis agentic kami memungkinkan perusahaan melampaui sekadar operasi ‘lights on’ dan mengubah kinerja infrastruktur menjadi hasil yang terukur." 

NTT DATA SDI Services Agent menganalisis data telemetri secara langsung, konteks historis, dan batasan kebijakan untuk mengambil tindakan yang aman dan deterministik, serta mengelola operasional sehari-hari dengan tetap mempertahankan kendali penuh di tangan manusia. 

Baca catatan pasar IDC tentang Solusi Infrastruktur NTT DATA

Untuk informasi lebih lanjut tentang Solusi Infrastruktur NTT DATA, kunjungi: https://services.global.ntt/en-us/services-and-products/infrastructure-solutions

Tentang NTT DATA

NTT DATA adalah pemimpin global di bidang layanan bisnis dan teknologi dengan nilai lebih dari USD 30 miliar, yang melayani 75 persen perusahaan Fortune Global 100. 

Kami berkomitmen mempercepat kesuksesan klien sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat melalui inovasi yang bertanggung jawab. 

Sebagai salah satu penyedia AI dan infrastruktur digital terkemuka di dunia, kami memiliki kapabilitas unggul di bidang AI berskala perusahaan, cloud, keamanan, konektivitas, pusat data, dan layanan aplikasi. 

Layanan konsultasi dan solusi industri kami membantu perusahaan dan masyarakat melangkah menuju masa depan digital secara percaya diri dan berkelanjutan. 

Sebagai Global Top Employer, NTT DATA didukung para ahli di lebih dari 70 negara serta memberikan akses bagi klien ke ekosistem inovasi yang luas, termasuk pusat inovasi, mitra mapan, dan perusahaan rintisan. 

NTT DATA merupakan bagian dari NTT Group, yang setiap tahunnya menginvestasikan lebih dari USD 3 miliar untuk riset dan pengembangan. 

Kunjungi kami di nttdata.com


(*/red)

Demo Warga Nambo Ilir Pecah di Depan Pabrik PT Tunas Alpin! Tuntut Hak Kerja

By On Mei 11, 2026

Ratusan warga Desa Nambo Ilir berunjuk rasa di depan PT Tunas Alpin, di Kawasan Industri Modern Cikande, di Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang, Banten, Senin, 11 Mei 2025. 

SERANG, KabarXXI.Com - Ratusan warga Desa Nambo Ilir berunjuk rasa di depan PT Tunas Alpin, di Kawasan Industri Modern Cikande, di Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang, Banten, Senin, 11 Mei 2025. 

Aksi yang digelar warga Kp Panebong, Nagrek, Gambar, yang terdiri dari Ibu-ibu dan Bapak-bapak, para pemuda, itu menuntut pihak perusahaan memprioritaskan warga setempat dalam rekrutmen tenaga kerja.

”Kami warga Nambo Ilir juga layak bekerja di sini. Kami menuntut ke­adilan dan keberpihakan ke­pada warga sekitar,” kata Rubil, sa­lah seorang peserta aksi, dalam orasinya di atas mobil komando.

Pria yang menjabat Ketua BUMDes Nambo Ilir ini juga menyampaikan bahwa selama ini pihak perusahaan berdalih hanya memprioritaskan tenaga ahli atau yang memiliki keahlian (skil) saja. 

"Bahkan, hingga saat ini tidak ada komunikasi antara pihak perusahaan dengan pemerintah desa. Untuk itu, dalam aksi ini kami meminta agar pihak perusahaan dapat segera mengakomodir dari tuntutan warga," tuturnya. 

"Ini aksi damai, dan kami berharap hari ini sudah ada keputusan dari pihak perusahaan," tegasnya. 

Hal senada disampaikan warga setempat, Sakti. Menurutnya, warga sekitar berharap agar pihak perusahaan dapat mengakomodir warga sekitar dalam perekrutan tenaga kerja. 

"Sejak pabrik ini ada, belum ada warga yang diterima berkerja di pabrik ini atau merekrut tenaga kerja warga sekitar. Mereka berdalih hanya skil saja bisa diterima bekerja," tutur seorang ibu yang anaknya belum dapat kesempatan bekerja di pabrik PT Tunas Alpin. 

Hingga berita ini tayangkan, perwakilan warga masih negosiasi dengan pihak perusahaan di dalam pabrik. (*/red)

Polrestabes Surabaya Ungkap Kasus Jaringan Scamming Internasional, Puluhan WNA dan Tiga WNI Ditangkap

By On Mei 11, 2026

Sebanyak 41 WNA dari China, Taiwan, dan Jepang, serta tiga WNI ditangkap Polrestabes Surabaya karena diduga terlibat jaringan scamming internasional. 

SURABAYA, KabarXXI.Com - Sebanyak 41 Warga Negara Asing (WNA) dari China, Taiwan, dan Jepang, serta tiga Warga Negara Indonesia (WNI) ditangkap Polrestabes Surabaya karena diduga terlibat jaringan scamming internasional. 

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan mengatakan, terbongkarnya kasus scamming ini bermula dari laporan salah satu keluarga korban. 

"Awalnya, korban WNA dari Jepang ditawari ini ditawari untuk bekerja sebagai pelayan atau operator di Thailand. Namun dalam perjalanannya, mereka justru dibawa ke Surabaya, Indonesia," ujar Luthfie kepada wartawan saat Konferensi Pers di Mapolrestabes Surabaya, Jumat, 08 Mei 2026. 

Karena salah satu korban merasa terancam dengan kondisi itu, dia kemudian mengirimkan lokasi keberadaan ke suaminya, sebelum pelaku menyita handphone tersebut. 

Lewat lokasi itu, suami korban melapor ke Konsulat Jepang yang ada di Surabaya, Indonesia. 

Dari info yang didapatkan, saat itu korban dibawa oleh pelaku ke salah satu rumah di kawasan Dharmahusada. 

Di sana, polisi langsung mengamankan dua korban untuk kemudian dititipkan ke safe house. 

"Dari lokasi ditemukannya korban, kami juga mengamankan beberapa pelaku yang berasal dari China, Jepang, dan Indonesia, beserta barang bukti yang digunakan sebagai alat penipuan online," ujarnya. 

Polisi juga melakukan pengembangan kasus lewat tersangka E yang berasal dari Indonesia. 

Melalui E, polisi mendapati bahwa ada beberapa lokasi lain yang dipakai sebagai tempat scamming seperti, di Solo, Semarang, dan Bali. 

Untuk menggaet korbannya, pelaku menggunakan modus dengan pura-pura menjadi polisi Jepang. 

Tidak hanya itu, untuk meyakinkan korbannya, pelaku juga membuat set lokasi seperti di kantor polisi, lengkap dengan seragam hingga properti pendukung lainnya. 

"Pelaku juga melakukan intimidasi. Mereka menuduh korban terlibat kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) hingga jaringan narkoba," tuturnya. 

Kemudian, korban diminta membayar sejumlah uang untuk menebus kesalahan yang tidak mereka lakukan. Atas kejadian itu, salah satu korban mengalami kerugian hingga Rp 834 juta. 

Ia menuturkan, para pelaku masuk ke Indonesia ada yang menggunakan visa kunjungan resmi yang berlaku selama 30 hari maupun izin tinggal sementara. 

"Tapi berdasarkan keterangan yang kita terima dari imigrasi bahwa keseluruhannya saat ini berstatus overstayer. Ada beberapa (visanya) yang masih berlaku tapi menjelang overstayer,” ujarnya. 

Sampai saat ini, pihaknya masih terus berkoordinasi dengan Interpol, imigrasi, dan konsulat Jepang, China untuk menemukan perkembangan dari hasil penelitian. 

"Untuk mempertanggungjawabkan perbuatan pelaku, kami menyangkakan pasal berlapis tentang Tindak Pidana Penipuan," ujarnya. (*/red)

Guru Ngaji di Surabaya Ngaku Takut Zina tapi Cabuli Tujuh Santri Laki-laki

By On Mei 11, 2026

MZ, guru ngaji tersangka pencabulan muridnya. 

SURABAYA, KabarXXI.Com - Seorang Ustaz atau guru ngaji di sebuah pesantren kawasan Genteng Kali, Surabaya, Jawa Timur (Jatim) berinisial MZ (22) ditetapkan sebagai tersangka karena mencabuli tujuh murid laki-lakinya. 

Ia mengaku, perbuatan itu dilakukan karena dorongan nafsu sesaat. 

Tersangka mengungkapkan hal itu saat diinterogasi oleh Kapolrestabes Surabaya, Kombes Luthfie Sulistiawan. 

Pengakuan tersangka membuat Luthfie geleng-geleng kepala. 

Awalnya tersangka mengaku pencabulan itu atas dorongan nafsu sesaat saat ditanya terkait motif. Hal itu karena ia kerap menonton film porno. 

"Tiba-tiba muncul nafsu karena keseringan nonton film porno itu," ujar tersangka dalam video seperti yang dilihat dari akun @luthfie.daily, Minggu, 10 Mei 2026. 

Saat ditanya kembali soal orientasi seksualnya suka perempuan atau laki-laki, tersangka mengaku dua-duanya. Namun saat ini memang lebih suka ke laki-laki terutama anak-anak. 

"Ya sekarang ya anak-anak. Soalnya adanya cowok itu. Terus kalau sama perempuan nanti takutnya zina atau hamil gitu," ujar tersangka. 

"Kalau sama perempuan takutnya zina, terus sama laki-laki anak-anak," timpal Luthfie sambil terheran-heran. 

Dalam pengakuan lainnya, tersangka mengakui pencabulan selalu dilakukan saat korban tidur di kamar asrama. 

Aksi bejat itu dilakukan sebenarnya diketahui murid-murid lainnya. Namun mereka takut dan memilih pura-pura tidur. 

Kasus itu terungkap setelah salah satu korban memberanikan diri buka suara dan lapor ke Polisi. 

Dari situ, korban lainnya yang senasib ikut buka suara dan laporan juga. Total ada tujuh anak yang menjadi korban pencabulan tersangka. 

Diketahui sebelumnya, seorang ustaz atau guru ngaji di sebuah pesantren, di kawasan Genteng Kali, Surabaya, berinisial MZ (22) ditetapkan jadi tersangka. Ia diduga mencabuli santrinya. 

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Luthfie Sulistiawan mengatakan, ada tujuh orang yang menjadi korban tersangka dalam kurun tahun 2025. 

"Itu dilakukan oleh guru ngajinya atau ustaznya kepada tujuh orang santri laki-laki. Jadi pada beberapa waktu mulai tahun 2025 sampai 2026 dari kurun waktu itu. Tujuh orang ini yang dilakukan perbuatan cabul oleh tersangka," kata Luthfie kepada wartawan di Mapolrestabes Surabaya, Sabtu, 09 Mei 2026. (*/red)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *