Berita Terbaru

Dari Gunung Tamang ke Istana Merdeka, Celina Olivia Apriani Theo Bawa Nama Kubu Raya di Kancah Nasional

By On Agustus 19, 2026

Celina Olivia Apriani Theo. 

KUBU RAYA, KabarXXI.ComKebanggaan datang dari pelosok Kabupaten Kubu Raya. Nama Celina Olivia Apriani Theo, pelajar SMK Negeri 5 Pontianak yang berasal dari Gunung Tamang, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, mencuri perhatian setelah dipercaya menjadi pembawa baki bendera Merah Putih dalam Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di Istana Merdeka, 17 Agustus 2026. 

Celina menjadi salah satu anggota Paskibraka Nasional 2026 yang mewakili Provinsi Kalimantan Barat. 

Kepercayaan membawa baki Sang Merah Putih menjadi momen bersejarah, bukan hanya bagi dirinya dan keluarga, tetapi juga bagi masyarakat Kubu Raya dan Kalimantan Barat. 

Di balik penampilannya yang penuh disiplin di Istana Merdeka, Celina memiliki perjalanan panjang. 

Sebelum menjadi bagian dari Paskibraka Nasional, ia telah mengikuti berbagai tahapan seleksi dan pembinaan hingga akhirnya terpilih mewakili Kalimantan Barat. 

Prestasinya juga tidak hanya di bidang baris-berbaris. Saat masih bersekolah di SMP Negeri 2 Sungai Raya, Celina pernah meraih Juara II Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2024. 

Prestasi tersebut menunjukkan bahwa dirinya memiliki kemampuan dan ketekunan di bidang seni sekaligus kedisiplinan dalam kegiatan Paskibraka. 

Momen ketika Celina menerima tugas sebagai pembawa baki menjadi pengalaman yang sangat emosional. 

Ia mengaku terharu dan bangga karena tidak menyangka mendapat kepercayaan membawa bendera Merah Putih dalam upacara kemerdekaan di hadapan Presiden. 

Bagi masyarakat Gunung Tamang dan Kubu Raya, keberhasilan Celina menjadi pembawa baki di Istana Merdeka bukan sekadar sebuah prestasi pribadi. 

Ini adalah cerita tentang seorang anak daerah yang mampu melangkah dari Gunung Tamang menuju panggung nasional, membawa nama keluarga, sekolah, Kubu Raya, dan Kalimantan Barat. 

Semoga pencapaian Celina menjadi inspirasi bagi generasi muda Kubu Raya bahwa kesempatan untuk mengukir prestasi di tingkat nasional dapat datang dari mana saja—termasuk dari daerah. (*/red)

Dari Penjual Kacang Keliling hingga Dipanggil Presiden: Kisah Citra Merajut Asa Lewat Sekolah Rakyat

By On Agustus 15, 2026

Citra Nur Ramadhani (10). 

JAKARTA, KabarXXI.Com - Mengenakan baju bodo khas Sulawesi Selatan lengkap dengan pernak-pernik aksesori, Citra Nur Ramadhani (10) tampil berbeda dari kesehariannya. 

Senyum kecil sesekali mengembang di wajahnya ketika menceritakan pengalaman yang baru saja dilaluinya. 

Siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 67 Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, itu baru saja menyaksikan langsung pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung Nusantara II DPR/MPR RI, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026. 

Tak disangka, namanya disebut secara khusus oleh Presiden Prabowo di hadapan para peserta sidang. 

Citra diperkenalkan sebagai salah satu siswa Sekolah Rakyat yang memiliki kisah perjuangan dan berhasil menorehkan prestasi. 

Dia pun sangat bahagia lantaran dapat bertemu langsung dengan Presiden. 

“Senang banget karena barusan ketemu Bapak Presiden,” ujarnya. 

Bagi anak berusia 10 tahun itu, kesempatan bertemu Presiden menjadi pengalaman yang membekas. 

Apalagi, Presiden Prabowo sempat menyampaikan apresiasi atas perjuangannya yang hampir putus sekolah karena harus membantu ibunya berjualan kacang. 

"Terima kasih, Bapak Presiden,” ujarnya dengan wajah berbinar. 

Ia juga menyampaikan pesan sederhana kepada Kepala Negara. 

“Pak Presiden sehat-sehat ya. Tunggu saya dewasa nanti pakai sabuk hitam,” ucapnya. 

Jauh sebelum mengenakan seragam Sekolah Rakyat dan berdiri di hadapan Presiden, keseharian Citra tidak jauh dari perjuangan membantu keluarga. 

Citra berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Ayahnya telah meninggal dunia ketika ia masih duduk di kelas 2 SD. 

Sementara sang ibu, Hajrah, merupakan orangtua tunggal yang bekerja serabutan, antara lain membersihkan dan menyapu masjid serta menjadi buruh cuci harian. 

Melihat kondisi sang ibu, Citra berusaha ikut membantu memenuhi kebutuhan keluarga. 

Ia bahkan berjualan kacang secara berkeliling di sejumlah lokasi di Kota Pangkep. 

"Bantu Mama,” jawab Citra ketika ditanya mengenai kegiatannya sebelum masuk Sekolah Rakyat. 

Kacang yang dijualnya diperoleh dari tetangga yang memiliki usaha. Citra kemudian menjajakannya di sekitar taman kota hingga sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Dalam sehari, ia dapat memperoleh omzet sekitar Rp 200 ribu. 

Menurut Wali Asuh SRT 67 Pangkep, Maysaroh Abdi Gobel, keputusan Citra untuk ikut berjualan muncul dari keinginannya membantu sang ibu. 

"Citra sebelum di Sekolah Rakyat itu benar-benar berjuang membantu ibunya untuk memenuhi kebutuhan di rumah, karena ibunya orang tua tunggal. Dia bekerja sebagai tukang cuci harian dan menyapu di masjid,” kata Maysaroh. 

Citra, kata dia, bahkan berjualan tanpa sepengetahuan ibunya. 

Ia berkeliling hingga malam hari karena merasa perlu membantu keluarga agar tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

“Dia melihat ibunya di rumah tidak punya makanan. Terus dia mau makan apa? Supaya dia makan, dia bantu,” ucapnya. 

Kondisi tersebut membuat Citra berada pada titik hampir meninggalkan bangku sekolah. Namun, keadaan berubah ketika ia diterima sebagai siswa Sekolah Rakyat. 

Di Sekolah Rakyat, Citra tidak hanya kembali mendapatkan kesempatan belajar. Ia juga memperoleh lingkungan yang mendukung tumbuh kembangnya. 

Kesehariannya kini dimulai sejak subuh. Ia menjalankan ibadah, sarapan, kemudian mengikuti kegiatan pembelajaran dan berbagai aktivitas di sekolah. 

"Bangun subuh, sholat. Makan pagi. Belajar,” ujar Citra menggambarkan rutinitasnya.

Pelajaran yang paling disukainya adalah matematika. Selain kegiatan akademik, Citra juga menemukan minat baru melalui kegiatan ekstrakurikuler, salah satunya karate. 

Maysaroh mengatakan, bakat Citra di bidang olahraga bela diri mulai terlihat setelah ia mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di Sekolah Rakyat. 

"Bakat siswa dikembangkan melalui ekskul-ekskul. Banyak ekskulnya di Sekolah Rakyat kami. Salah satunya karate,” katanya. 

Dengan sabuk kuning yang melingkar di pinggangnya, Citra mulai menapaki jalan menuju prestasi di cabang karate. Citra berhasil meraih Juara II tingkat Kabupaten Pangkep. 

"Senang banget,” ujar Citra saat ditanya perasaannya setelah meraih prestasi tersebut. 

Bagi Maysaroh, prestasi tersebut menjadi salah satu bukti bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki potensi besar apabila memperoleh kesempatan dan pendampingan yang tepat. 

“Alhamdulillah, setelah di Sekolah Rakyat, Citra sudah mampu berinteraksi dengan baik dan memperlihatkan bakatnya di bidang karate hingga berprestasi,” ujarnya. 

Tidak hanya kemampuan bela diri yang berkembang. Menurut Maysaroh, Citra juga menunjukkan semangat belajar yang tinggi. 

“Citra cepat sekali menghafal. Dia mau tahu segala hal dan mau belajar. Semangat belajarnya tinggi,” kata Maysaroh. 

Perubahan itu juga terlihat dari kondisi fisiknya. Saat mengunjungi rumah Citra, Maysaroh melihat kondisi keluarga yang masih sangat terbatas. 

Setelah tinggal dan belajar di Sekolah Rakyat, Citra mendapatkan makanan bergizi secara teratur, yakni tiga kali makan dan dua kali snack setiap hari. 

"Yang pertama, ibunya melihat dari bentuk badannya sudah berisi. Sebelumnya dia sangat kurus. Di Sekolah Rakyat dia makan tiga kali sehari dan dapat dua kali snack,” ujar Maysaroh. 

Bagi Citra, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat untuk kembali belajar. Di sana ia mendapatkan ruang untuk bermimpi dan mengembangkan kemampuan yang sebelumnya belum sempat ia kenali. 

Kini, ia memiliki cita-cita yang ingin diwujudkan. Ia ingin terus belajar, berprestasi, dan suatu hari mengenakan sabuk hitam karate. 

Maysaroh melihat semangat itu sebagai kekuatan terbesar Citra. 

"Semangatnya sangat tinggi. Dia sangat ingin menggapai cita-citanya karena dia ingin memperbaiki derajat keluarganya,” ujar Maysaroh. 

Citra juga ingin melihat ibunya memiliki kehidupan yang lebih baik. 

Di balik keinginannya berprestasi, tersimpan harapan untuk membuat sang ibu bangga sekaligus meneruskan pesan perjuangan yang pernah ditanamkan ayahnya. 

Kisah Citra kemudian mendapat perhatian Presiden Prabowo. Dalam pidatonya, Presiden menyebut Citra sebagai salah satu contoh anak yang kembali memperoleh kesempatan untuk belajar dan mengembangkan potensi setelah hadirnya Sekolah Rakyat. 

"Ketika kelas 4 sekolah dasar, Citra hampir putus sekolah karena harus membantu ibunya berjualan kacang. Ayahnya telah wafat dan ibunya penyandang disabilitas,” ujar Presiden Prabowo. 

Presiden juga menyinggung prestasi Citra di bidang karate dan memberikan pesan agar Citra terus mengejar prestasinya. 

“Citra, umurmu berapa Citra? 10 tahun? Ya nanti 10 tahun lagi lah kau boleh pacaran. Citra, kau boleh pacaran setelah sabuk hitam karatemu,” kata Presiden di hadapan para peserta sidang. 

Dalam pidatonya, Presiden menegaskan Sekolah Rakyat merupakan bagian dari upaya negara memutus mata rantai kemiskinan dengan memberikan kesempatan kepada anak-anak dari keluarga yang paling membutuhkan untuk memperoleh pendidikan, tempat tinggal, makanan bergizi, fasilitas belajar, guru, serta lingkungan yang aman. 

Presiden menilai, capaian Citra dan siswa Sekolah Rakyat lainnya membuktikan bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu dapat mencapai prestasi tinggi ketika memperoleh kesempatan, fasilitas, dan bimbingan yang tepat. 

"Kami di sini untuk memastikan kamu punya masa depan dan kesempatan yang baik, tidak ada satupun anak Indonesia yang kita tinggalkan,” tegas Presiden. 

Bagi Citra, pesan tersebut kini bukan lagi sekadar kalimat dari seorang Presiden. Ia merasakannya melalui kesempatan yang ia dapatkan di Sekolah Rakyat. 

Dari seorang anak yang pernah berkeliling menjajakan kacang demi membantu ibunya, Citra kini kembali duduk di bangku sekolah, berprestasi di arena karate, bertemu Presiden, dan berani menyimpan mimpi tentang sabuk hitam. 

"Pak Presiden sehat-sehat ya. Tunggu saya dewasa nanti pakai sabuk hitam,” ujar Citra sekali lagi sebelum kembali bergabung dengan rombongan. (*/red)

Anak Driver Ojol Penyandang Disabilitas di Gresik Lolos ITS, Bukti Mimpi Tak Kenal Batas

By On Mei 31, 2026

Anak driver ojol penyandang disabilitas di Gresik berhasil lolos ITS Surabaya. 

GRESIK, KabarXXI.ComDi tengah keterbatasan fisik dan kondisi ekonomi keluarga, Cherry Elzena Nasywa Santoso membuktikan bahwa mimpi tidak mengenal batas. Putri dari Basuki Santoso, seorang pengemudi ojek online (Ojol) di Gresik, Jawa Timur (Jatim), itu berhasil lolos ke Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melalui jalur Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). 

Cherry diterima di Program Studi Kimia, sebuah pencapaian yang membanggakan mengingat ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi negeri. 

ITS sendiri dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi teknologi terbaik di Indonesia yang setiap tahun menjadi tujuan ribuan peserta seleksi nasional. 

Keberhasilan tersebut tidak diraih dengan mudah. Sejak kecil, Cherry hidup sebagai penyandang disabilitas. Kedua kakinya memiliki panjang yang berbeda, sementara jari-jari kakinya tidak lengkap. 

Namun kondisi itu tidak pernah mengurangi semangatnya untuk belajar dan mengejar cita-cita. 

Di balik pencapaian tersebut, ada sosok ayah yang terus bekerja keras demi masa depan putrinya. 

Basuki Santoso sehari-hari mencari nafkah sebagai pengemudi Ojol, mengantar penumpang dan pesanan demi memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus mendukung pendidikan anaknya. 

Bagi keluarga ini, pendidikan bukan sekadar tentang memperoleh gelar, melainkan jalan untuk membuka masa depan yang lebih baik. 

Karena itu, berbagai keterbatasan yang mereka hadapi tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti berusaha. 

Lolos ke ITS melalui jalur UTBK menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik maupun ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih prestasi. 

Di tengah persaingan yang ketat, Cherry mampu menunjukkan bahwa kerja keras, disiplin, dan ketekunan dapat mengantarkan seseorang menuju impiannya. 

Meski telah berhasil mengamankan kursi di kampus impian, tantangan baru kini menanti. 

Basuki harus memikirkan biaya pendidikan agar putrinya dapat menjalani perkuliahan hingga menyelesaikan studi. 

Namun, keluarga ini memilih untuk tetap optimistis. Mereka percaya bahwa setiap ikhtiar yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menemukan jalannya. 

"Kalau Allah mengizinkan Cherry lolos UTBK dan diterima di ITS, kami yakin Allah juga akan membuka jalan untuk pembiayaannya," ujar Basuki penuh keyakinan. 

Baginya, keberhasilan sang putri diterima di ITS bukan sekadar pencapaian akademik. 

Itu adalah bukti bahwa keterbatasan tidak selalu menentukan masa depan seseorang. 

Dari jalanan tempat sang ayah mencari nafkah hingga gerbang kampus impian yang kini terbuka, kisah Cherry Elzena menjadi pengingat bahwa mimpi dapat diraih oleh siapa saja yang berani berjuang. 

Di balik setiap keterbatasan, selalu ada harapan yang menunggu untuk diwujudkan. (Reno/Red)

Sosok Nadia, Mahasiswa Untirta yang Mengisi Waktu Libur dengan Berbisnis Kuliner di Lebak

By On Mei 22, 2026

Nadia Eka Nur Safitri, mahasiswa semester 4 Untirta, sukses mengembangkan usaha kuliner.  

LEBAK, KabarXXI.Com - Memanfaatkan waktu libur kuliah dengan produktif, Nadia Eka Nur Safitri, mahasiswa semester 4 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), sukses mengembangkan usaha kuliner di Kabupaten Lebak, Banten. 

Nadia secara rutin memproduksi dan menjajakan kue kreasi mandirinya di kawasan luar Alun-alun Rangkasbitung setiap akhir pekan. 

Menu andalan yang ditawarkan oleh Nadia adalah Cheesekuit, kue biskuit keju kekinian dengan berbagai varian rasa populer seperti cokelat, matcha, dan tiramisu. 

Bagi sebagian mahasiswa, hari libur kuliah kerap digunakan untuk bersantai. Namun bagi Nadia, momentum tersebut menjadi peluang emas untuk mengasah jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) sekaligus memandirikan diri secara finansial. 

"Manfaatkan waktu dan buat tambahan uang jajan. Lumayan kan, bisa bantu sedikit meringankan beban orang tua," ujar Nadia sembari tersenyum saat ditemui di lapaknya. 

Di sela-sela kesibukan akademisnya yang padat, ia tetap konsisten menjaga kualitas produksi jajanan miliknya demi menarik perhatian para pengunjung di pusat kota. 

Pemilihan kawasan luar Alun-slun Rangkasbitung sebagai lokasi berjualan dinilai sangat strategis. Tempat ini menjadi pusat keramaian utama warga Kabupaten Lebak yang berkumpul untuk berolahraga maupun berekreasi saat akhir pekan. 

Lapak jajanan milik Nadia pun selalu ramai dikunjungi pembeli. Sebagian besar konsumen merupakan masyarakat yang mencari camilan berkualitas dengan harga yang tetap ramah di kantong. (Cup)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *