Berita Terbaru

Dituding Lakukan Pungutan, Kepala MTsN 1 Lebak dan Komite Tegaskan Program Tahfidz Sesuai Kesepakatan

 


LEBAK, KabarXXI.com – Manajemen MTsN 1 Lebak bersama pihak komite sekolah akhirnya angkat bicara guna meluruskan polemik terkait pembiayaan Program Tahfidz Quran. Kepala MTsN 1 Lebak, Yaya Mulyadi, memastikan bahwa program keagamaan tersebut berstatus sebagai program unggulan yang legalitasnya didasarkan pada kesepakatan bersama dengan wali murid melalui forum musyawarah.

Yaya memaparkan, agenda tahfidz ini bukan program fiktif karena seluruh progres dan laporannya tercatat dengan jelas serta dapat dipertanggungjawabkan ke publik.

 “Kegiatannya berjalan secara riil, laporan serta capaian siswanya pun ada. Mengenai regulasi dana, pihak madrasah sama sekali tidak memegang anggarannya. Itu ranah komite, kami murni hanya sebagai pelaksana teknis program,” terang Yaya.

Senada dengan kepala madrasah, Ketua Komite MTsN 1 Lebak, H. Rahmat, menyanggah anggapan bahwa uang senilai Rp400 ribu per siswa tersebut adalah pungutan liar. Ia menggarisbawahi bahwa nominal itu muncul dari hasil mufakat para orang tua demi menyokong program unggulan sekolah.

Rahmat berdalih, skema swadaya ini terpaksa diambil lantaran operasional untuk kelas tahfidz tidak diakomodasi oleh dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

“Pembiayaan kelas unggulan semacam tahfidz ini memang tidak dianggarkan dan dilarang menggunakan dana BOS,” jelas Rahmat saat memberikan konfirmasi via telepon.

Ia menambahkan, komite bergerak atas dasar mandat untuk mendukung visi pendidikan madrasah. Segala langkah yang diambil, klaim Rahmat, selalu melewati persetujuan para wali murid terlebih dahulu. Mayoritas orang tua bahkan merespons positif karena program ini berdampak baik pada kualitas pendidikan agama anak-anak mereka.

“Faktanya, hingga detik ini pun masih banyak wali murid yang belum melunasi iuran tersebut,” imbuhnya.

Uang yang dihimpun dari orang tua siswa tersebut dialokasikan untuk membiayai kebutuhan logistik program serta honorarium 24 guru pembimbing tahfidz, di mana tiga di antaranya merupakan seorang hafiz.

“Dana itu dipakai untuk uang lelah para pengajar yang nilainya hanya berkisar Rp500 ribu per bulan,” tutur Rahmat.

Sebelumnya, MTsN 1 Lebak sempat menjadi sorotan menyusul isu adanya pungutan sebesar Rp400 ribu untuk kelas tahfidz. Kabar ini memicu riak di tengah masyarakat yang mempertanyakan transparansi anggaran serta korelasi pembiayaannya dengan dana BOS.

Merespons dinamika tersebut, madrasah dan komite kompak menyatakan bahwa program ini murni bertujuan menguatkan karakter religius siswa. Mereka menjamin seluruh prosesnya transparan dan telah mengantongi restu dari orang tua murid sejak awal. (Red) 


Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *