Rangkasbitung,KabarXXI.com - Suasana lesu menyelimuti Pasar Rangkasbitung dalam beberapa waktu terakhir. Keluhan para pedagang kini bukan lagi sekadar soal turunnya omzet, melainkan sepinya aktivitas pembeli yang dinilai sudah berada pada titik mengkhawatirkan.
Curahan hati itu ramai diperbincangkan setelah salah seorang pedagang mengunggah kondisi pasar di media sosial. Dalam unggahannya, ia menggambarkan betapa sunyinya pasar tradisional kebanggaan masyarakat Lebak tersebut.
“Sekarang mah jangankan pembeli belanja, lihat orang lewat satu jam sekali juga susah,” tulis pedagang tersebut.
Ungkapan itu sontak memantik perhatian publik. Banyak warga menilai kondisi Pasar Rangkasbitung memang semakin memprihatinkan dibanding beberapa tahun lalu. Lorong-lorong pasar yang dulu dipadati pengunjung, kini terlihat lengang. Sejumlah kios bahkan tampak tutup lebih cepat karena minim transaksi.
Para pedagang mengaku pendapatan mereka terus menurun. Tidak sedikit yang hanya bisa membawa pulang uang belasan hingga puluhan ribu rupiah setelah seharian membuka lapak.
“Kami bayar retribusi, bayar listrik, bayar kebutuhan dagangan, tapi pembeli hampir tidak ada. Mau bertahan juga makin berat,” keluh salah seorang pedagang lainnya.
Kondisi ini pun memunculkan sorotan tajam terhadap kinerja pemerintah daerah, khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak, terutama bidang perdagangan dan pengelolaan pasar. Para pedagang menilai hingga kini belum terlihat langkah konkret yang benar-benar mampu menghidupkan kembali denyut ekonomi pasar tradisional.
Mereka berharap pemerintah tidak hanya hadir saat penarikan retribusi, tetapi juga serius memikirkan strategi penyelamatan pasar rakyat yang semakin kehilangan daya tarik.
Sejumlah pedagang menilai lemahnya penataan pasar, minimnya promosi, kurangnya event keramaian, hingga menjamurnya perdagangan online tanpa diimbangi inovasi pasar tradisional menjadi penyebab utama menurunnya pengunjung.
“Kalau dibiarkan terus, lama-lama pedagang kecil bisa gulung tikar. Pasar ini hidup masyarakat kecil, bukan sekadar bangunan,” ujar seorang pedagang dengan nada kecewa.
Ironisnya, Pasar Rangkasbitung selama ini dikenal sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat Kabupaten Lebak. Namun kini, denyut kehidupan pasar perlahan terasa memudar. Banyak pedagang berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah sebelum kondisi semakin parah.
Masyarakat pun menunggu langkah nyata Disperindag Lebak untuk menjawab keluhan para pedagang. Sebab jika pasar tradisional terus sepi dan dibiarkan tanpa solusi, maka yang terancam bukan hanya aktivitas jual beli, tetapi juga keberlangsungan ekonomi rakyat kecil yang menggantungkan hidupnya di sana. (Red)
« Prev Post
Next Post »
