Ketua KPPS Luhut Aritonang Wafat, PPWI Sambangi Keluarga Almarhum

Diposting oleh On Thursday, May 16, 2019


SUMUT, KabarXXI.Com – Merespon berbagai pemberitaan terkait wafatnya Luhut FP Aritonang, Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di salah satu wilayah di Tarutung, Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) telah melakukan kunjungan langsung ke kediaman almarhum Luhut Aritonang di Tarutung, Rabu, 15 Mei 2019.

Di kediaman Almarhum, Ketua DPC PPWI Tobasa bersama team yang ditugaskan oleh PPWI Nasional telah bertemu dan berkomunikasi dengan istri almarhum, Boru Situmorang.

Luhut FP Aritonang sehariannya adalah buruh bangunan, namun pada saat menjelang Pilpres dan Pileg, ia terpilih menjadi Ketua KPPS, dan selama kegiatan tersebut, menurut keluarga, tidak ada keluhannya serta tugasnya berlangsung dengan baik atau tanpa beban.

Tapi menurut istrinya, Br. Situmorang yang saat ini sedang mengandung anak yang kedua, bahwa suaminya adalah seorang yang tidak banyak bicara, dan pada Minggu tersebut Luhut FP Aritonang sering duduk termenung seolah fikiran kosong, dan bila keluarga bertanya padanya tentang apa yang difikirkan, jawaban darinya selalu mengatakan tidak ada apa-apa. Jadi keluarga tidak ada kecurigaan apapun terhadapnya.

Ketika ditanya tentang kemungkinan ada yang dicurigai sebagai lawannya, Br Situmorang mengatakan, bahwa sepanjang pengetahuannya, suaminya adalah seorang yang banyak pergaulan, maklum suaminya adalah tukang bangunan. Jadi menurut hematnya suaminya tidak ada musuhnya atau lawannya.

“Pada Senin, 05 Mei 2019, Bapak keluar dari rumah dengan tidak membawa apa-apa. Dompet serta motornya semua tinggal di rumah, dan tidak memberitahukan kepada siapapun kemana ia pergi. Setelah berselang, saya mulai bertanya kepada tetangga dan keluarga, tapi tak ada yang bisa beri jawaban yang pas,” ujarnya.

Sesudah beberapa hari tak kunjung datang atau pulang, walaupun sudah banyak yang terlibat dalam pencarian, namun hasilnya nihil, yang membuat si istri bertanya kepada paranormal yang disarankan keluarga. Banyak sudah orang pintar ditanyakan oleh si istri namun jawaban tunggu saja dia akan pulang.

Namun yang ditunggu tak kunjung datang, sehingga keluarga yang berdomisili jauh turut membantu dan membawa paranormal ke Desa Parbubu l tersebut, dan menuju ke tempat yang terdeteksi oleh sang paranormal tersebut di pedalaman hutan Tombak Sirambe yang jarang sekali dilalui orang, dan dengan bantuan masyarakat mencari, sang istri mencium bau busuk dan serta-merta ibu ini berteriak "bau!"

Lalu masyarakat semakin yakin bahwa bau itu adalah petunjuk, mereka pun menyebar mencari dan akhirnya ketemu tergantung di pohon tapi sudah membusuk dengan lidah terjulur badan agak menghitam. Warga pun tidak diperbolehkan menyentuh jasad korban sampai datang pihak yang berwajib. 

Setelah sang istri mengetahui bahwa mayat tersebut adalah suaminya dengan melihat pakaian  dikenakan untuk bunuh diri, dikarenakan tak sanggup melihat dan menghadapi situasi tersebut ia pun pulang ke rumah dan meratap sejadi jadinya.

Tua-tua Kampung berembuk dengan Istri beserta orangtua kandung dari yang meninggal, diambil kesimpulan bahwa suaminya langsung dikebumikan tapi harus dihadiri aparat Kepolisian.

Mengingat jasad tersebut sudah membusuk, terlebih dengan banyaknya misteri, "ada  yang mati tak wajar dimana jasadnya tak bisa ditemukan, dan juga teman karibnya dari kanak-kanak sampai dewasa ada dua, dan kedua-duanya sudah meninggal dunia", yang terjadi di desa tersebut, membuat keluarga ini rela dan pasrah bila suaminya dikebumikan tanpa visum et repertum dari dinas terkait.

Setelah pihak Kepolisian datang dan mengamati secara visual bahwa korban tersebut meninggal akibat bunuh diri karena tidak ada ciri bekas dianiaya, terlebih hutan Tombak Sirambe tersebut jarang dikunjungi orang, jadi dari cirinya, korban meninggal akibat bunuh diri, dan hari itu juga jasadnya dikuburkan di lereng hutan Sirambe, dikarenakan lereng hutan Tombak Sirambe tersebut juga merupakan areal kuburan dari masyarakat Desa Parbubu 1, disamping kuburan ibunya. (Team PPWI Tobasa)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »